Type something and hit enter

author photo
By On

SENANDUNG NEGERIKU
SENANDUNG NEGERIKU 
          Pagi yang agak mendung dengan hembusan angin sepoi-sepoi, di sisi kanan kiri tampak kendaraan yang berlalu-lalang ke sana ke mari. Aku duduk di pojok dekat jendela, menghirup segarnya udara di pagi hari. Berangkat sekolah dengan harapan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dengan diam sambil membaca doa di dalam hati, sedangkan di sisi kanan dan depanku ada anak-anak SMA yang sedang ngobrol tentang urusan mereka sendiri-sendiri yang aku tak perlu tahu isinya. Namaku Mudlof. Aku bersekolah di sebuah SMP yang cukup terkenal di kotaku. Suatu kebanggaan bagiku karena bisa bersekolah di sana. Ku akui aku datang dari sebuah desa yang terletak di kaki gunung dengan udaranya yang masih segar dan pepohonannya masih rindang, yang terletak jauh dari pusat kota. Berbeda denganteman-temanku yang hanya bisa bersekolah di sekitar desa, sedangkan aku bisa bersekolah di kota. Segarnya udara membuatku ingat tentang desaku yang sejuk dan pemandangannya sangat indah. Dengan tiba-tiba angkot berhenti, tak terasa aku telah sampai di sekolahku tercinta. Aku berjalan menuju kelas dan memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar apa yang aku belum pahami. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Aku dan teman-teman berbaris di depan kelas dengan rapi, lalu masuk ke kelas dengan tertib dan teratur. Sebelum pelajaran dimulai, kami menyanyikan lagu wajib nasional, karena memang sekolahku adalah sebagai Piloting PNKB di kota ini. Kepribadian  yang baik diajarkan untuk membentuk jiwa pemimpin yang baik demi membangun bangsa di masa yang akan datang. Suasana sepi saat pelajaran dimulai. Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Tok..............tok............tok...........
            “Assalamu’alaikum.......”
            “Wa’alaikumsalam.........” jawab anak-anak sekelas dengan serentak.
            “Kenapa kamu telat?”tanya Guru Matematika dengan kerasnya.
            Ternyata itu suara temanku yang bernama Vatih. Dia memang suka terlambat, entah alasan apa yang membuat dia terlambat, karena jika dia ditanya guru selalu saja tidak di jawab dan memperlihatkan wajah yang murung. Dia adalah teman sebangkuku, sebenarnya dia baik dan dia juga teman bermainku.
            Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Aku menuju kantin untuk membeli sarapan, karena dari tadi cacing-cacing dalam perutku sudah berbunyi keras bersahut-sahutan. Aku mengajak temanku yang bernama Adhe untuk sarapan bersama dan juga membeli jajan untuk camilan.
            “Dhe, ayo kita pergi ke kantin.” ajakku sambil menarik tangannya Adhe.
            “Ayo, kebetulan aku juga sudah lapar.”
            “Eh.......ngomong-ngomong Vatih tadi kenapa?” tanya Adhe sambil memesan makanan.
“Aku juga tidak tahu.” jawabku sambil memperbaiki tempat duduk.
            Setelah pesanan sudah jadi aku dan Adhe makan bersama. Perut yang kenyang sudah siap untuk dipakai berpikir yang memerlukan banyak energi. Kami kembali ke kelas.
            Tak terasa waktu pelajaran di sekolah sudah selesai. Akhirnya aku pulang. Meskipun sudah pulang, tugasku tidak selesai begitu saja. Aku masih harus melakukan sholat berjamaah dan mengaji. Jika ada pakaian yang kotor aku mencucinya. Aku melakukannya sendiri, karena aku harus belajar mandiri dan tidak terus bergantung pada orang lain, dan kebetulan aku juga tinggal di pondok pesantren selama aku masih bersekolah di kota.
            Setiap malam aku belajar mengulang materi yang telah diterangkan dan mempelajari materi yang akan dibahas selanjutnya. Jika ada PR juga aku kerjakan. Sesekali aku berkumpul bersama teman-teman pondokku untuk bercanda tawa dan melepaskan kejenuhan di pikiran yang selama ini menumpuk semakin banyak.
            Adzan Subuh telah berkumandang, aku bangun untuk menunaikan sholat berjamaah. Selesai melakukan sholat aku mengaji Al-Qur’an sebentar dengan guruku. Lalu aku mandi sebelum akhirnya bersiap-siap untuk menuntut ilmu di sekolah.
            Hari ini berbeda dengan sebelumnya, karena cuaca pada hari ini sangat cerah. Matahari tersenyum kepadaku, angin menyuruhku agar lebih giat belajar, dan pepohonan menyapaku dengan manjanya. Aku berpamitan dengan Kiyai meminta doa restu agar diberi kemudahan dalam jalannya mencari ilmu.
            Seperti biasa, hari ini Vatih pun terlambat lagi. Saat istirahat, dia duduk-duduk di bawah Pohon Akasia yang menjulang tinggi menusuk awan dan langit biru yang berada di depan kelasku. Dia sendirian karena teman-teman yang lain bermain sendiri-sendiri. Lalu aku mendatangi untuk menemaninya agar dia tidak kesepian.
            “Hai...............! Sendirian saja.” Sapaku yang mengejutkan Vatih.
            “Iya nih Dlof, habisnya nggak ada yang menemani sih.”
            “Ini ada aku.”
            “Ya, tapi hanya kamu saja yang mau berteman denganku.”
            “Sebenarnya yang lain juga mau. Hanya perasaanmu saja kali. Beneran kok.” Jawabku dengan meyakinkannya.
Vatih kemudian pergi meninggalkanku. Memang benar ku akui, Vatih adalah anak yang nakal, kalau berpakaian tidak pernah rapi, suka mengganggu teman, dan sering melanggar aturan yang telah ditetapkan.
            Padahal baru saja dia meninggalkanku, eh..... malah sudah mulai mengganggu teman lagi, terutama anak cewek. Karena aku ingin membantu dia agar menjadi jiwa dan pribadi yang baik, aku mendatanginya untuk aku nasihati. Bukannya aku sok menggurui.
“Tih,kamu ikut aku saja.”
            “Nggak! Aku mau di sini saja.”
            “Mungkin dari tingkahmu inilah yang membuat temen-temen membencimu.”
            “Alah, sok tahu kamu.”
            “Bukan gitu, tapi aku hanya ingin kamu baik.”
            “Jangan sok jadi guru deh kamu!”
            “Nggak. Kamu harus menjadi anak yang baik.”
            Akhirnya Vatih pergi, mungkin karena dia kesal dengan perkataanku yang menurutnya memaksa. Tapi aku hanya mencoba membantu dia agar sadar, tidak lebih dari itu.
            Waktu demi waktu berlalu. Malam ini aku memejamkan mata dengan harapan hari esok lebih baik daripada sekarang. Tiba-tiba aku terbangun dengan jantung yang berdebar begitu keras. Dag........dig........dug.............begitu bunyinya. Ternyata aku hanyalah mimpi buruk. Karena sudah terlanjur bangun, lalu aku mengambil air wudlu, untuk selanjutnya melakukan Sholat Tahajud dan Hajat. Selesai sholat, aku berdoa dan salah satu dari isi doaku adalah aku mengharapkan perubahan yang baik dari temanku Vatih.
            Hari ini aku ada ekstrakulikuler karawitan, salah satu ekstrakulikuler yang ada di SMPku. Aku kecewa karena tidak jadi latihan karawitan pada hari ini, karena kekurangan pemain yang berperan sebagai pemukul gong. Sebenarnya aku ikut ekstra ini karena hobiku terhada musik tradisional sejak dari kecil. Agar ekstra karawitan bisa berjalan, aku mengajak Adhe supaya mau ku ajak sebagai pemukul gong.
            “Dhe, kamu bisa bantu aku nggak?”
            “Emangnya bantu apa?”
            “Begini...... karawitanku kurang pemain sebagai pemukul gong.’
            “Terus apa hubungannya denganku?”
            “Kamu mau nggak jadi pemainnya?”
            “Maaf Dlof. Kalau aku boleh tahu ekstranya hari apa ya?”
            “Hari Rabu Dhe.”
            “Oooo............ kalau Hari Rabu aku nggak bisa, soalnya aku sudah ikut ekstra taekwondo yang kebetulan waktunya bersamaan.”
            “Iya sudah kalau gitu.”
Karena Adhe tidak mau, aku memutuskan untuk memikirkan siapa yang tepat untuk berperan sebagai pemain karawitan itu. Setelah beberapa lama akhirnya aku lebih memilih Vatih, karena menurut pertimbanganku adalah dia belum ikut ekstrakulikuler satupun.
“Tih, kamu mau bantu aku nggak?”
“Bantu apa?”
“Jadi pemukul gong di regu karawitan sekolah kita.”
“Nggak mau.”
“Sudah lah, hitung-hitung membantu melestarikan budaya nenek moyang. Lagian kamu juga suka musik kan?”
“Iya sih.”
“Gimana, mau nggak?”
“Terserah deh!”
Dengan Vatih ikut karawitan, aku jadi lebih dekat dengannya. Aku sering ke rumahnya Vatih yang kebetulan dekat dengan pondokku untuk mengajakknya berangkat sekolah bersama. Hari ini adalah Hari Rabu, hari pertamanya Vatih latihan karawitan. Nang.................ning........gong...........nang........gong............gong........... Suaranya terdengar berantakkan. Maklumlah, namanya saja baru pertama kali latihan. Sebenarnya Vatih hampir saja menyerah, tapi aku mencoba untuk meyakinkannya kalau sebenarnya dia bisa.
“Gimana ini Dlof? Bunyinya hancur gara-gara aku.”
“Nggak apa-apa, namanya saja baru pertama kali latihan.”
“Tapi kan..............”
“Dulu aku juga begitu. Sudah tenang saja.”
“Ya, makasih telah mendukungku.”
“Iya, sama-sama.”
Sejak ikutkarawitan, Vatih sedikit demi sedikit berubah menjadi baik. Dia lebih semangat, disiplin, dan tidak mengganggu teman lagi. Dia mencoba untuk memperbaiki diri. Semangat yang membara di hati untuk bisa bermain karawitan, menjadikannya lebih giat latihan. Ternyata sosok Vatih yang selama ini nakal bisa menjadi anak yang baik.
Hidup memang tidak selalu mulus, pasti ada halangan-halangan yang terjadi. Begitupun dengan aku. Karena hidup di pondok yang memang ajaran agamanya sangat kental, aku dilarang untuk mengikuti ekstrakulikuler yang hanya untuk hiburan dan kesenangan hati semata seperti karawitan. Aku agak sedih dengan peraturan seperti itu. Untuk melampiaskan kesedihanku itu, aku menulis sebuah puisi dalam buku harian kesayanganku.


Tak Seperti Anganku
Harapan memenuhi benakku
Angan-angan yang besar terbayang dihidupku
Ingin hati mudah untuk menjalaninya
Tapi apa? Semua telah pupus sudah
Terpangkas oleh aturan yang mengikat
Hidupku lemah untuk melawannya
Apakah masih ada secercah harapan?
Untuk aku bangkit meraih semua
Angan yang selama ini aku harapkan
Hanya doa yang bisa aku panjatkan
Untuk meraih apa yang  sudah jadi angan
Hari Rabu telah tiba, aku bingung apakah harus mengikuti ekstra atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti ekstra karawitan. Ku pikir semua akan baik-baik saja jika aku tetap memaksa untuk karawitan. Ternyata tidak, sepulang dari karawitan aku sudah ditunggu oleh pengurus di pintu dan aku pun ditegur. Malam harinya hukuman diberikan kepadaku untuk membaca istighfar dan Al-Qur’an satu juz. Setelah itu aku sudah tidak berani lagi untuk mengikuti karawitan.
“Dlof, aku kok sudah tidak pernah melihatmu lagi dalam ekstra karawitan. Kamu di mana?” tanya Vatih kepadaku dengan penasaran.
“Nggak di mana-mana kok Tih.”
“Biasanya kamu paling rajin.”
“Iya maaf. Soalnya di pondokku ada larangan mengikuti ekstra seperti ini.”
“Gimana nih, soalnya kalau nggak ada kamu rasanya sepi.”
“Iya deh......... aku minta maaf.”
Aku bingung dengan semua ini. Beberapa bulan kemudian akan diadakan perpisahan kakak kelas-IX. Dan regu karawitanku akan bermain, tapi aku tidak bisa mengikuti latihan. Aku merasa senang, karenajadwallatihan dilaksanakan setelah pulang sekolah dan tidak pada sore hari. Hari perpisahan telah tiba, dan regu karawitan kami menunjukkan kebolehan. Kami tampil dengan penuh percaya diri. Ning...........nang..........ning...........gong........... bunyi suara gamelan yang teratur dan merdu membentuk suara yang indah untuk didengar telinga. Bunyi tepuk tangan mengiringi selesainya tampilan karawitan kami. Plok.............plok............plok....... Bapak dan Ibu Guru juga memuji kami.
Aku ingin menghilangkan anggapan bahwa karawitan hanya untuk menyenangkan hati, tapi juga bisa untuk mendidik. Aku berusaha minta izin kepada Kiyai pondok agar diperbolehkan untuk mengikuti karawitan. Berulang kali hal itu aku lakukan tetapi tetap saja tidak diperbolehkan.
Suatu saat diadakan lomba pertunjukkan musik tradisional. Kelompok karawitan kami maju untuk mewakili sekolah. Aku berusaha meminta izin lagi, dan dalam hal ini beliau memperbolehkannya. Keesokan harinya adalah hari perlombaan dilaksanakan. Sebenarnya aku dan Vatih sempat ragu dengan semua ini, mengingat saingan kami banyak dan sangat bagus-bagus. Tapi semangat kebersamaan yang selalu ada di hati kami mengalahkan rasa ragu yang ada. Lomba berlangsung, waktu pengumuman telah tiba. Bagi kami kalah menang biasa, tapi jika seandainya kami menang, itu adalah suatu kebanggaan yang besar buah dari perjuangan kami yang sulit dan banyak rintangan. Akhirnya mimpi kami pun menjadi kenyataan, regu karawitan kami keluar sebagai pemenangnya. Aku dan Vatih sangat gembira.
“Tih, kita menang!”
“Iya Dlof, aku sangat bahagia sekali.”
“Aku juga. Ini semua karena kamu mau bergabung dalam karawitan.”
“Nggak Dlof, tapi ini hasil perjuangan kita bersama.”
Tapi kemenangan itu tidak membuat kami sombong dan lupa diri. Kami bersyukur kepada Sang Pencipta Alam, yang telah memberikan kami kesempatan untuk menjadi pemenang.

Terima kasih Ya Allah, akhirnya Vatih bisa menjadi anak yang baik dan Engkau telah memudahkan semua urusanku. Sebagai tanda syukurku, aku menulis sebuah puisi di buku harian. Meskipun puisinya tidak begitu indah, tapi tak apalah yang penting bisa melambangkan rasa syukurku kepada-Nya.
Rasa Syukurku
Dalam sebuah doa
Dengan berlinang air mata
Ku yakini semua keajaiban yang ada
Tangan yang menengadah keatas menuju surya
Terima kasih tak kan ku lupa
Ku ucapkan semua rasa syukurku Tuhanku
Atas semua kenikmatan-Mu
Aku percaya semua ini atas pertolongan-Mu
Kekuatan dan keajaiban-Mu telah tertuju padaku
Keinginan yang ada di hatiku dan hati Vatih adalah suatu saat dapat bersama membangun sanggar karawitan, sebagai pelestari budaya daerah untuk warisan anak cucu. Dan kami berharap karawitan bisa menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia yang diakui oleh dunia.

1 komentar:

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun