Type something and hit enter

author photo
By On


Dilema “Pulang Kampung” Mahasiswa
Ilustrasi Opini Ari Arini FSRD UNS
Ilustrasi Opini Ari Arini FSRD UNS
“Pulang kampung” Mahasiswa Kampus Mesen dan Tirtomoyo, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) sudah terealisasikan. Sebuah kebahagiaan bagi mahasiswa yang selama ini terpisah dari “kampung halaman” mereka, tempat keberadaan induk UNS yang notabene masuk wilayah Kentingan, Jebres, Surakarta. Tidak bisa dipungkiri rona kebahagiaan ditunjukkan mereka dengan adanya hal itu.
Banyak faktor yang bisa dijadikan alasan kebahagian itu. Faktor sarana dan prasarana (sarpras) menjadi yang paling utama dan mendasar dalam, kebutuhan sarpras lebih mudah didapatkan, begitupun dari segi kelengkapan dan kualitas fasilitas yang ada. memang tidak bisa apabila sarpras di kampus “wilayah” dibandingkan dengan yang ada di kampus “pusat”. Akan jauh berbeda. Untuk lebih memahaminya kita bisa mengambil contoh berupa fasilitas pustaka penunjang pendidikan. Dimana kampus UNS Kentingan yang memiliki tujuh lantai dengan bidang kajian khusus di setiap lantainya, menjadikan pencarian buku sebagai referensi materi kuliah menjadi lebih mudah. Ditambah lagi berbagai macam buku dengan penulis berbeda namun dengan kajian yang sama jauh lebih banyak dan cukup lengkap.
Faktor lainnya adalah dari kemudahan akses selain kegiatan wajib perkuliahan. Dalam berbagai hal banyak urusan mahasiswa yang menyangkut tanda tangan untuk pengesahan sebuah dokumen, tidak hanya pengesahan dari dosen maupun kepala program studi, namun juga terkadang sampai harus meminta pengesahan dari dekan ataupun wakil dekan sesuai bidangnya. Sedangkan keberadaan dekan dan wakilnya sudah pasti berada di pusat fakultas berada, dalam hal ini pusat dari FK UNS berada di Kampus kentingan. Dari penjabaran itu bisa kita ketahui bahwa apabila mahasiswa Kampus Mesen dan Tirtomoyo membutuhkan pengesahan dari dekan ataupun wakilnya, maka mereka harus datang terlebih dahulu ke pusat FK UNS. Jarak akses perbedaan wilayah tersebut menjadi penghambat, belum lagi mereka harus menyesuaikan jadwal kuliah dengan waktu untuk mengurusi tanda tangan tersebut. Termasuk kedekatan dengan Biro Kemahasiswaan dan Alumni, yang menjadi kemudahan bagi mahasiswa dalam mengurusi hal yang menyangkut kehidupannya sebagai mahasiswa.
Faktor-faktor tersebut menjadi alasan yang wajar apabila mahasiswa kampus “wilayah” berbahagia dengan perpindahan mereka. Namun segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sempurna, disamping memiliki sisi positif tentunya “pulang kampung” Mahasiswa Kampus Mesen dan Tirtomoyo juga memiliki sisi negatif. Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan berbagai sisi negatif yang bisa saja dialami mahasiswa, selaku salah satu pihak yang terkena dampak langsung terealisasinya hal ini.
Pertama, mahasiswa perlu menata ulang siklus belajar mereka. Berdasarkan penuturan Yasmin (18), seorang Mahasiswi Psikologi FK UNS 2016, didapatkan penulis bahwa mahasiswa dari kedua wilayah tersebut memiliki jadwal awal mata kuliah pada pukul 08.00 WIB, dengan perpindahan tempat perkuliahan maka mereka juga perlu menyesuaikan dengan jadwal jam awal mata kuliah Kentingan, yaitu pada pukul 07.30 WIB. Bukan sebuah beban dan masalah bagi mereka yang tergolong rajin dan dispilin waktu. Namun hal yang berbeda akan dirasakan oleh mahasiswa yang tidak terbiasa dengan jadwal yang berbeda, mereka harus berjuang ekstra untuk mempersiapkan lebih awal segala sesuatu ketika hendak berangkat, agar tidak telat datang ke perkuliahan.
Kedua, mahasiswa perlu membiasakan diri berbagi sarpras yang ada. Mahasiswa kampus “wilayah” memiliki ruang kelas tersendiri dalam melaksanakan kegiatan perkuliahannya. Namun saat “pulang kampung” ke Kampus Kentingan, mahasiswa harus membiasakan diri berpindah ruangan kelas setiap pergantian mata kuliah. Belum lagi berbagi sarpras umum, seperti musala, kantin, dan tempat parkir. Di Kentingan mereka harus antri lebih lama untuk mendapatkan makanan jika membeli di kantin. Tempat parkir juga semakin sesak dengan jumlah kendaraan yang bertambah, sesuai dengan pertambahan jumlah mahasiswa di FK UNS karena perpindahan tempat.
Ketiga, mahasiswa harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang baru. Dengan perpindahan tempat perkuliahan, mahasiswa umumnya akan memilih tempat tinggal (kos, kontrakan) yang baru, dengan maksud lebih dekat dengan tempat perkuliahan yang “baru” pula. Penyesuaian dengan memilih kos yang sesuai dengan kondisi keuangan dan juga sesuai dengan keinginan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena kos menjadi tempatnya bertempat tinggal sementara selama masa perkuliahan, sehingga kenyamanan sangat diperlukan untuk menghindari stres yang bisa memberikan pengaruh buruk bagi proses belajar mereka. Selain itu, hal sepele yang tidak boleh dilupakan adalah tempat makan. Bagi mahasiswa yang tinggal di kos dengan kebutuhan makan yang tidak menjadi tanggungan pemilik kos, maka mereka perlu mencari tempat lain dengan harga yang sesuai dengan kantung dan rasa sesuai selera. Biasanya mereka mencari makan sudah mempunyai tempat tetap yang menjadi langganan. Dengan perpindahan kegiatan perkuliahan, maka mau tidak mau mereka harus mencari tempat makan baru yang bisa dijadikan sebagai langganan.
Dari paparan di atas, maka kita bisa mengetahui bahwa dengan adanya “pulang kampung” Mahasiswa Kampus Mesen dan Tirtomoyo membawa dampak yang tidak bisa dinilai baik semua maupun buruk semua. Disisi lain perpindahan tersebut menjadikan mahasiswa sebagai pihak yang diuntungkan, namun disisi lainnya mahasiswa juga menanggung hal-hal yang “sedikit” menyusahkan diri mereka sendiri. Akan tetapi kita tidak bisa menafikan bahwa perpindahan kedua kampus “wilayah” ke kampus pusat UNS di Kentingan, menjadikan mereka bisa menyunggingkan senyum lebar karena merasa tidak lagi “dianaktirikan”.