Type something and hit enter

author photo
By On

Jangan Sekadar Mimpi
(Analisis Tema Dies Natalis UNS Ke-41)
Jangan Sekadar Mimpi
Ilustrasi oleh: Multazam (Ilmu Sejarah/2015)

       Melihat namanya saja semua orang bisa mengetahui kalau Universitas Sebelas Maret (UNS) berdiri pada tanggal sebelas maret, lebih tepatnya diresmikan pada tanggal 11 Maret 1976. Sehingga di tahun ini UNS tepat berusia 41 tahun. Usia yang masih sangat "belia" bagi sebuah perguruan tinggi.
       Dalam memperingati hari jadinya UNS mengadakan dies natalis. Dies Natalis UNS kali ini mengambil tema "Penguatan Otonomi UNS Menuju World Class University (WCU) berbasis Keunggulan Budaya Nasional". Sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi didengar civitas akademika UNS. Karena dengan poin yang paling ditonjolkan "Menuju WCU" selalu muncul dalam berbagai kesempatan, seperti seminar-seminar, upacara, perkuliahan, bahkan Prof. Dr. Ravik Karsidi selaku Rektor UNS juga tak luput memperkenalkan istilah tersebut saat Program Kenal Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Suatu usaha yang cukup baik melalui pengenalan dan penanaman motivasi agar tujuan besar itu terwujud.
       Menyoroti tema itu, kita bisa membaginya menjadi beberapa kata kunci, yaitu penguatan otonomi UNS, WCU, dan keunggulan budaya nasional. Agar lebih memahaminya mari kita bahas satu persatu.
       Pertama, otonomi UNS. Poin ini mempunyai keterkaitan dengan poin yang akan dibahas selanjutnya, yaitu WCU. Otonomi kampus sangat diperlukan UNS sebagai salah satu dari sekian syarat agar menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), yang selanjutnya bisa menjadi WCU. Dimana untuk memenuhinya sebuah perguruan tinggi harus mempunyai pendapatan mandiri tanpa bantuan pemerintah minimal 100 milyar rupiah, sedangkan UNS sendiri baru memiliki income sebesar 30 milyar rupiah. Masih jauh dari target. Sehingga banyak upaya yang dilakukan diantaranya dengan membuat air kemasan "unsQua" dengan berbagai tipenya. Ditambah lagi dengan rencana pembangunan pusat bisnis terpadu, yang rencananya akan menggunakan "bekas" kampua Mesen dan Tirtomoyo. Juga dengan dibentuknya Rumah Sakit Pendidikan UNS.
       Dalam mencapai otonomi UNS, tentu tak luput dari berbagai permasalahan. Bisa kita ambil contoh "penghianatan" Program Green Campus. Pernyataan itu bukan tanpa alasan, Program Green Campus dengan salah satu poin mengurangi penggunaan plastik kemasan menjadi tercoreng dengan adanya unsQua. Adanya Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang dimiliki UNS sejatinya menjadi pendukung program itu. Mahasiswa bisa hanya dengan membawa botol minum dari rumah lalu mengisinya secara gratis melalui water dispenser yang tersebar di setiap tempat di UNS. Sehingga dengan begitu seharusnya penggunaan air minum dalam kemasan botol sekali pakai bisa dikurangi, bahkan dihindari.
       Selanjutnya rencana pembentukan fakultas keolahragaan, dimana gedungnya akan dibangun menggunakan lahan dekat fakultas teknik. Apabila ini terealisasikan maka wajah UNS sebagai Green Campus peringkat 5 Indonesia dan 76 dunia tercoreng. Pasalnya sebuah "kampus hijau" mestinya wilayahnya memiliki minimal 40% pepohonan. Bangunan hanya boleh sebanyak 60%. Dengan rencana itu, bisa saja penebangan pohon dilakukan, sehingga jumlahnya akan berkurang menjadi kurang dari batas minimal sebuah "kampus hijau". Rencana pembentukan fakultas keolahragaan dari penggabungan dua program studi keolahragaan, serta rencana pemindahan tempat dari kampus Mesen ke kampus Kentingan bisa menimbulkan spekulasi baru. Dimana kampus yang ditinggalkan juga akan dijadikan pusat bisnis terpadu untuk menambah pemasukan UNS.
       Kedua, WCU. WCU atau universitas kelas dunia menjadi cita-cita tetbesar yang ingin dicapai UNS. Sebuah predikat yang bisa menyadarkan semua pihak bahwa UNS tidak bisa dipandang remeh. Mendapatkan predikat WCU bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu adanya perbaikan dari segala aspek kehidupan kampus, mulai dari sarana dan prasarana (sarpras) hingga sumber daya manusianya.
       UNS sangat giat dalam hal perbaikan dan memperindah sarprasnya. Kita tengok saja pembangunan perpustakaan tujuh lantai, yang semakin mengusahakan kenyamanan para pengunjungnya. Akan tetapi perbaikan sarpras tersebut jangan sampai dijadikan ajang persaingan dengan perguruan tinggi lain, dengan harapan bisa dinilai jika UNS lebih "wah", yang nantinya fungsi UNS sebagai tempat mencari ilmu menjadi terbiaskan oleh hal semu yang tidak menjadi tujuan utamanya.
       Dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia, UNS mempunyai semboyan "ACTIVE" yang merupakan sebuah akronim. Semboyan tersebut harus dimiliki oleh semua sivitas akademika UNS melalui penanaman dalam jiwa dengan realisasinya. Tindakan nyata yang telah dilalukan adalah pemberian dana apresiasi bagi mahasiswa yang mempunyai prestasi. Hal itu menjadi motivasi agar ada persaingan untuk berprestasi antarmahasiswa.
       Ketiga, keunggulan budaya nasional. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang berada di kota budaya, semestinya UNS bisa menjadi percontohan dalam melestarikan budaya setempat. Hal unik yang ditunjukkan UNS dalam upaya merawat budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional. Berada di pusat budaya Jawa, UNS menunjukkan perhatiannya melalui pusat kebudayaan Jawa, Institut Javanologi UNS. Disisi lain seolah UNS enggan menunjukkan kebudayaan nasional, dengan berbagai fakta yang ada salah satunya perubahan nama Pusat Pendidikan dan Pelatihan UNS (PUSDIKLAT UNS) menjadi UNS Inn.
       Dengan mengetahui poin-poin besar dari Dies Natalis UNS ke-41, baik dari permasalahan maupun keunggulannya, menjadi langkah untuk mewujudkan tujuan besar tersebut. Dengan cara memperbaiki dan meminimalisasi permasalahan yang ada. Disamping itu, keunggulan yang telah dimiliki perlu dimaksimalkan. Sehingga mimpi besar UNS menjadi WCU bukan sebuah isapan jempol belaka.

Referensi:
1.http://solo.tribunnews.com/2017/03/01/dies-natalis-41-uns-perkuat-otonomi-kampus
2. http://saluransebelas.com/air-spam-unsqua-uns/

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun