Type something and hit enter

author photo
By On


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم الحَمْدُ لله الّذِ كَتَبَ عَلَيْنَا الصِّيَام كَمَا كَتَبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا لَعَلَّنَا مِنَ الْمُتَّقِيْنَ وَالصَّلاَتُ وَالسَّلاَم عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدْ صَلَى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم شَافِعِ الأُمَّةِ كَاشِفِ الْغُمَّةِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْن اَمَّا بَعْد

QS. Al-Baqarah ayat 183:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Memahami potongan ayat tersebut memberikan pesan bahwa bulan Ramadan sangat dimuliakan Allah Swt. Sampai-sampai al-Quran yang menjadi pedoman hidup manusia, diturunkan Allah Swt. pada bulan Ramadan juga. Nabi Muhammad Saw. ketika berkhutbah di akhir bulan Sya’ban memberikan kabar bahagia bagi umat Islam, bahwa telah tiba sebuah bulan dimana pada sepuluh hari awal disebut rahmat, di sepuluh hari pertengahan disebut maghfiroh (ampunan), dan di sepuluh hari terakhir bulan tersebut merupakan pembebasan dari api neraka. Dibulan itu pula terdapat sebuah malam yang lebih mulia daripada seribu bulan. Bulan itu dinamakan bulan Ramadan. Dimana pada bulan itu seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, sebagaimana telah diperintahkan kepada umat terdahulu untuk berpuasa. Hal itu semata-mata Allah maksudkan untuk menguji ketakwaan umatnya.


Ilustrasi: Muslim & Muslimah Beruntung di Bulan Ramadan
Ilustrasi: Muslim & Muslimah Beruntung di Bulan Ramadan
Background vector created by brgfx - www.freepik.com
 Dari uraian tersebut, alangkah meruginya bagi kita seorang muslim dan muslimah apabila tidak memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya, dengan melakukan amal saleh. Setidaknya menjadi seorang muslim dan muslimah yang beruntung, apabila kata “sempurna” tidak bisa dicapai. Karena memang dalam dunia ini, tidak ada makhluk yang diciptakan sempurna. Dalam mencapai keberuntungan di bulan Ramadan tidaklah sulit, banyak amal yang bisa dilakukan meskipun itu sangat sederhana. Apalagi pada bulan ini setan dan iblis telah dikerangkeng, sehingga tidak ada alasan lagi untuk berat melakukan amal saleh. Dari awal datangnya Ramadan, hal yang paling mudah dilakukan adalah dengan merasa bahagia dengan kedatangannya. Hal yang sangat sederhana tanpa harus mengeluarkan harta benda maupun tenaga, namun sudah mendapatkan pahala sunnah. Dengan merasa bahagia dengan kedatangan Ramadan, maka seorang muslim dan muslimah bisa lebih merasa siap fisik serta spiritual untuk memperbanyak amal kebaikan sampai akhir bulan Ramadan. Tentunya semangat itu harus tetap dipupuk jangan sampai layu saat sudah sampai pertengahan bulan. Karena melihat fakta sosial yang ada, saat ini banyak sekali orang yang sangat bersemangat di awal Ramadan, shaf jamaah di masjid dan mushola penuh, bahkan sebelum waktu sholat datang telah banyak orang yang sudah menunggu jamaah sambil mengisi waktunya dengan tadarus al-Quran. Akan tetapi perbedaan hampir mencolok bisa ditemui saat mencapai pertengahan Ramadan, lantunan tadarus al-Quran mulai sayup sepi terdengar, semangat salat berjamaah mulai menurun hingga jumlah shafnya yang berkurang. Kondisi seperti itu sebisa mungkin harus diminimalkan. Meskipun rasa lelah mulai mendera fisik kita tetap harus dipaksakan, supaya kita tidak termasuk golongan muslim dan muslimah yang merugi.
Dalam kitab “Tanbihul Ghafiliin”, diberikan penjelasan bahwa melakukan satu ibadah sunnah di bulan Ramadan sama halnya melakukan ibadah fardu di bulan lainnya. Sedangkan ketika melakukan satu ibadah fardu di bulan Ramadan sama halnya melakukan tujuh puluh ibadah fardu di bulan lainnya. Mengetahui hal tersebut, seorang muslim dan muslimah bisa menjadikan ladang amal dengan penuh berkah dan pahala. Melakukan hal sunnah seperti melakukan sahur untuk bekal energi selama satu hari berpuasa, atau menyegerakan berbuka setelah tiba waktu maghrib. Jangan mentang-mentang kuat menahan lapar dan haus sehingga tidak melakukan sahur ataupun mengundur waktu berbuka. Karena selain merupakan sunnah yang pahalanya setara dengan ibadah fardu di luar bulan Ramadan, maka hal itu juga sebagai bentuk syukur seorang muslim dan muslimah atas nikmat yang Allah Swt. berikan kepada umatnya, selain itu sunnah sahur dan menyegerakan berbuka merupakan keringanan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita.
Ramadan juga menjadi ajang berbagi kenikmatan dengan sesama, menunjukkan bahwa umat Islam juga bagian dari manusia sebagai makhluk sosial. Bagi seorang muslim yang notabene sebagai pencari nafkah, bisa melakukan kebaikan dengan menyisihkan sebagian uangnya untuk berbuka puasa. Sedangkan bagi seorang muslimah yang mempunyai keahlian lebih dalam memasak, bisa memanfaatkan uang tersebut untuk membeli bahan-bahan memasak, kemudian mengolahnya menjadi makanan. Seteah itu makanan bisa dibagikan untuk berbuka orang-orang yang sedang berpuasa. Tidak perlu makanan yang sangat mewah dengan porsi yang berlebih, namun cukup dirasa perlu untuk berbuka puasa. Karena Nabi Muhammad Saw. telah menjanjikan, “Barangsiapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang sedang berpuasa, niscaya kelak akan kuberikan minum dari telagaku (Nabi Muhammad Saw.). Apabila seseorang telah meminum air telagaku ini satu tegukan saja, maka dia tidak akan pernah merasakan haus hingga tiba saatnya dirinya masuk surga.” Sebuah janji yang sangat indah dari makhluk paling mulia di dunia ini. Janji yang tidak akan pernah dusta, sebuah kewajiban bagi kita muslim dan muslimah yang mau diaku sebagai umatnya untuk meyakini hal tersebut.
Dalam bulan ini terdapat amalan sunnah yang tidak bisa ditemukan di bulan lainnya, yaitu salat tarawih. Melakukan salat tarawih dengan berjamaah, seorang muslim dan muslimah bisa memperoleh keuntungan secara langsung maupun tidak langsung. Keuntungan langsung yang bisa didapatkan adalah terjalinnya tali silaturahmi antarkerabat, tetangga, maupun masyarakat sekitar. Sedangkan keuntungan tidak langsungnya adalah semangat melakukan ibadah karena tidak melakukannya sendiri. Pahala berjamahaah yang dua puluh tujuh derajat lebih tinggipun bisa diperoleh. Seusai melaksanakan tarawih, seorang muslim dan muslimah juga bisa menambah pengetahuan keagamaannya, karena biasanya selesai tarawih akan ada ceramah yang disampaikan oleh kiai, ulama, maupun seorang ustad.
Berbicara mengenai amalan sunnah di bulan Ramadan, maka kita tidak bisa menafikan amalan fardu, sebagai wujud seorang muslim dan muslimah yang taat. Seperti telah disinggung sebelumnya. Dalam bulan Ramadan, seorang muslim maupun muslimah diwajibkan untuk berpuasa sebagai wujud ketakwaannya kepada Allah Swt. Bahkan apabila meninggalkan puasa dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat, maka seorang muslim dan muslimah tetap harus menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadan. Apabila tidak sanggup melakukannya maka sudah ada ketentuan dalam syariat seperti membayar fidyah. Tadarus al-Quran yang memang juga menjadi kewajiban muslim dan muslimah tidak ada pengecualian dalam Ramadan, bahkan harus ditingkatkan dengan target misalnya satu hari khatam satu juz. Melakukan satu ibadah fardu ini setara dengan melakukan tujuh puluh ibadah fardu di bulan selain Ramadan. Bayangkan saja, jika pahala membaca al-Quran di bulan selain Ramadan per huruf adalah satu dalam keadaan hadats atau sepuluh dalam keadaan mempunyai wudu, maka di bulan Ramadan pahala membaca satu huruf saja dalam al-Quran dengan keadaan suci sudah berlipat ganda.
Maka dari itu kita sebagai seorang muslim dan muslimah harus selalu beramal saleh, berlomba-lomba dalam kebaikan. Lebih-lebih dalam bulan mulia yang penuh berkah ini, banyak nikmat dan bentuk kasih sayang yang dicurahkan oleh-Nya. Kita patut bersyukur kepada Allah Swt. melalui peningkatan kuantitas maupun kualitas dalam beribadah. Dengan begitu kita bisa termasuk golongan muslim dan muslimah yang sangat beruntung, bukan maah sebaliknya termasuk golongan hamba yang merugi.

wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته