Type something and hit enter

author photo
By On
Desember: Memilih dan Mempersiapkan
Desember telah berlalu, bulan terakhir di tahun 2018 telah terlewati. Sahabat, sebenarnya di bulan ini tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, bedanya Desember membuat saya sedikit merasa bingung karena beberapa hal. Namun tidak sedikit pula kabar bahagia yang saya dapatkan di bulan ini.

Kehidupan di Organisasi
Desember menjadi saat yang dinanti bagi mayoritas mahasiswa yang bergabung di setiap organisasi, sebab bulan ini merupakan penghujung kepengurusan sekaligus masa pertanggungjawaban. Di sisi lain, Desember berarti persiapan untuk menentukan rencana ke depan. Begitupun dengan saya yang juga mengikuti beberapa organisasi di kampus, mulai di tingkat program studi dengan menjadi pengurus di Forum Mahasiswa Sejarah (FMS), tingkat fakultas di UKM Saseru Study Club (SSC) dan universitas di UKM Studi Ilmiah Mahasiswa (SIM). Ketiga organisasi telah melaksanakan rapat tahunan terakhir di paruh awal Desember dalam periode kepengurusan 2018, FMS dan SIM dengan Musyawarah Anggota (Musang)-nya serta SSC dengan Musyawarah Besar (Mubes)-nya.

Mubes SSC 2018
Mubes SSC 2018
Setelah dua periode bergabung di FMS dan SIM saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya dengan berbagai pertimbangan, meskipun sebenarnya sempat ditembusi untuk melanjutkannya. Berbeda dengan SSC di kepengurusan baru ini saya menjadi kepala bidang riset, setelah sebelumnya menjadi sekretaris di bidang yang sama. Alasan untuk melanjutkan atau tidak di setiap organisasi sebenarnya terkait dengan rencana ke depan. Menjadi mahasiswa ilmu sejarah yang sudah memasuki tahun ketiga membuat saya berencana mencari organisasi/komunitas yang berhubungan dengan bidang, alasan itulah yang membuat saya melepas beberapa organisasi di kampus. Menurut saya dengan bergabung di organisasi/komunitas bidang sejarah dan kebudayaan menjadi salah satu sarana agar bisa mewujudkan visi besar di kemudian hari, yaitu menjadi peneliti sejarah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sebenarnya untuk FMS memang saya sudah memiliki rencana untuk melepasnya, sebab saya rasa di sini tidak begitu mengalami perkembangan signifikan. Sedangkan SIM, organisasi yang sebenarnya sejak awal tidak akan saya lepaskan, meskipun mengikuti beberapa organisasi lainnya. Namun saya rasa di SIM cukup menjadi tempat bagi saya untuk menimba ilmu tentang organisasi sekaligus keilmiahan. Banyak teman-teman yang tidak mengira dengan keputusan saya ini. Berbeda dengan SSC, sempat memiliki rencana untuk melepas organisasi ini juga, namun niat itu saya urungkan. Melihat kondisi SSC sebagai UKM penalaran di FIB kurang berkembang, membuat saya berpikir inilah saat dan tempat yang tepat untuk menerapkan ilmu yang saya dapatkan dari SIM.

Kumpul Perdana PHT SSC 2019
Kumpul Perdana PHT SSC 2019
Langkah awal di kepengurusan baru SSC 2019 dimulai dengan pertemuan Pengurus Harian Tetap (PHT) pada Jumat, 28 Desember 2018. Pertemuan awal ini dibuat santai untuk menambah keakraban antar-PHT, meskipun di antara kami sudah saling mengenal. Mengingat problem di kepengurusan SSC sebelumnya adalah kurangnya kesolidan PHT. Sebelum memasuki liburan ada beberapa rencana untuk agenda terdekat yang kami susun, yaitu pengumpulan karya bagi anggota magang untuk meningkatkan rasa kepemilikan mereka terhadap SSC dan persiapan pelantikan pengurus. Selain itu juga masing-masing kepala bidang membuat grup Whatsapp untuk mengoordinasinya.

Kehidupan sebagai Peserta Rumah Kepemimpinan (RK)
Kegiatan di asrama dengan adanya agenda harian, pekanan dan bulanan berjalan dengan semestinya, meskipun ada agenda yang mengharuskan diundur karena satu dan beberapa hal. Tanggal 15 Desember 2018 menjadi salah satu yang berkesan, sebab dalam sesi sharing alumni kali ini menghadirkan Bang Achmad Zaky, Pendiri sekaligus CEO Bukalapak, salah satu startup unicorn di Indonesia. Saya yang sebenarnya belum terlalu memiliki perhatian khusus dalam bidang ekonomi dan bisnis menjadi tertarik karena sharing ini.

Sharing alumni dengan Bang Achmad Zaky - CEO Bukalapak
Sharing alumni dengan Bang Achmad Zaky - CEO Bukalapak
Bang Zaky juga menceritakan peranan RK dalam kesuksesan yang diraihnya saat ini. Belajar dari pengalaman, Beliau juga menyampaikan sifat-sifat yang perlu disiapkan sejak masih menjadi mahasiswa.  Bang Zaky menyampaikan bahwa kampus adalah tempat terbaik untuk bereksperimen. Melakukan apapun itu mumpung masih menjadi mahasiswa (pemuda). Sebab banyak ide gila dan aneh (unik) yang dimiliki pemuda, tapi itulah yang membuatnya ideal. Pemuda juga harus berani menerima tantangan, menerima perubahan dan berani menceburkan diri pada hal yang tidak enak, namun sebenarnya banyak ilmu di dalamnya. Pemuda harus bisa menjadi bagian revolusi yang terus berlanjut. Terlebih sekarang memasuki era teknologi siapapun bisa melakukan apapun, jadi jangan sampai rendah diri. Sifat seperti itulah yang dibutuhkan dalam membangun negara.

Tentang pentingnya berteman dengan semua orang menjadi salah satu poin terpenting yang disampaikan oleh Bang Zaky. Masalah umum yang terjadi pada orang besar – termasuk alumni RK –  adalah terjebak dalam kotak, tidak mau berbaur dengan orang lain yang dianggapnya bisa mengkontaminasi kebiasaan baiknya. Padahal sejatinya berteman dengan semua orang untuk belajar memahami kondisi di luar lingkungannya, sebab dunia tidak sempit.

Tanggal 17 Desember 2018 saya mendapatkan kabar telah mendapatkan Sahabat Pemimpin (SP). Sebenarnya ini adalah kabar bahagia dan yang dinantikan oleh para peserta RK, namun muncul kekhawatiran bahwa saya sebenarnya sudah pantas atau belum mendapatkan SP. Apalagi posisi saat ini sudah berhenti dari beberapa organisasi dan rencana mengikuti organisasi/komunitas luar kampus yang sesuai dengan prodi sejarah belum terlaksana. Kekhawatiran itu bertambah ketika mengetahui ternyata SP saya adalah Mas Arya atas nama orang tua, mengingat Mas Arya merupakan Presiden BEM UI 2016, sangat berhubungan dengan dunia organisasi. Namun saya tetap percaya bahwa Allah Swt. sudah menyiapkan rencana terbaik. Saya harap dengan sudah mempunyai SP bisa mendapatkan saran-saran dan menjadi penyemangat untuk lebih baik.

Kehidupan sebagai Mahasiswa Ilmu Sejarah
Salah satu hal yang membuat saya senang menjadi mahasiswa Ilmu Sejarah dan patut dibanggakan adalah sering jalan-jalan. Tentunya bukan sekadar jalan-jalan, namun lebih ke kegiatan perkuliahan yang membuat harus berkunjung ke suatu tempat untuk mendapatkan data. Banyak teman dari prodi lain yang secara jujur mengaku iri dengan kami – mahasiswa sejarah – karena sering jalan-jalan, entah itu di museum-museum dengan segala  keunikannya atau tempat bersejarah lainnya yang bagus untuk dijadikan tempat berfoto yang instagramable.

Paruh awal Desember, tepatnya pada tanggal 11 dan 12, saya bersama teman-teman satu angkatan ilmu sejarah 2016 berkunjung ke Ponorogo. Kunjungan itu dalam rangka melaksanakan tugas mata kuliah praktikum sumber sejarah lisan, kali ini topiknya tentang Reyog Ponorogo dari beberapa aspek, seperti sejarah, kesenian, folklor (tradisi lisan), gemblak, pariwisata dan ekonomi. Kesempatan ini termasuk istimewa karena dilaksanakan satu angkatan bersama, biasanya dalam melakukan penelitian sejarah hanya sendiri atau dengan kelompok masing-masing. Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah kami saat membuat skripsi, bisa dikatakan latihan melaksanakan penelitian sejarah dengan baik dan benar.

Praktikum Sumber Sejarah Lisan Reyog Ponorogo
Praktikum Sumber Sejarah Lisan Reyog Ponorogo
Pengalaman yang berharga dari penelitian ini adalah bagaimana mencari narasumber yang tepat untuk sejarah lisan, sebab langkah-langkah pendekatan dengan narasumber memiliki peran penting terhadap informasi yang didapatkan. Selain itu saya bisa belajar langsung dari daerah inti kesenian reyog – sejarah tidak hanya mempelajari kaum elite, namun juga tentang masyarakat kecil sampai akar rumputnya – dengan masyarakat yang sangat ramah. Sungguh saya kagum ketika sambutan masyarakat setempat yang sangat baik, jauh melebihi ekspektasi. Kami disuguhkan penampilan reyog anak di sore harinya dan perkembangan reyog tiga generasi di malam harinya, informasi yang jarang bisa ditemui hanya dari buku bacaan. Hal unik dari Ponorogo yaitu semua tempat di setiap sudutnya bisa ditemukan elemen yang berhubungan dengan reyog, selain itu juga di sini semua jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak memiliki ekstrakulikuler reyog sendiri.

Memasuki paruh kedua bulan Desember berarti menjadi waktu evaluasi belajar di semester ganjil. Di Ujian Akhir Semester (UAS) 5 ini berbeda dengan semester sebelumnya, sebab sekarang saya sudah menjadi bagian dari peserta Rumah Kepemimpinan. Di masa ini pula Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 telah beredar, pengumuman proposal yang lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) UNS juga telah disebar. Di SK Rektor mengenai PIM-UNS tercantum nama-nama tim yang berhak mengunggah proposalnya ke PKM Dikti, alhamdulillah nama saya termasuk salah satu di antaranya. Masa-masa UAS bukan berarti berhenti dari aktivitas lainnya, sehingga kesempatan itu saya dan tim gunakan untuk konsultasi intensif dengan dosen pendamping. Sangat bersyukur ketika dosen pendamping memberikan banyak masukkan untuk perbaikan dari proposal tim kami. Hingga akhir bulan ini, 31 Desember 2018, ditutup dengan konsultasi dan mengurus revisi proposal PKM. Prinsip kami adalah mempersiapkan segalanya sesuai pedoman dan semaksimal mungkin, tidak terlalu fokus dengan hasilnya, meskipun keinginan untuk lolos PKM sampai tahap akhir tetap ada.

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun