Type something and hit enter

author photo
By On
Sang Pendobrak Zaman

Anak Bangsawan Bertukar Jalan - Kholil Media
Anak Bangsawan Bertukar Jalan - Kholil Media
Bagi kebanyakan orang, nama Ki Hajar Dewantara sudah tidak asing lagi didengar. Ia merupakan Bapak Pendidikan Indonesia, seorang tokoh pendidikan yang terkenal dengan semboyan serta perannya dalam mendirikan lembaga pendidikan yang tidak berafiliasi dengan Pemerintahan Kolonial, yaitu Taman Siswa. Di sisi lain Ia merupakan keturunan ningrat dari Keraton Pakualaman. Berbeda dengan Raden Mas (R.M.) Suryopranoto, namanya masih asing di telinga masyarakat saat ini. Padahal Ia merupakan ningrat, pangeran dari Pakualaman yang juga merupakan kakak kandung dari Ki Hajar Dewantara. Perannya dalam sejarah pergerakan nasional juga tidak kalah dengan Sang Adik.

Buku yang diterbitkan LKiS ini ditulis oleh Budiawan, sejawaran dan staff pengajar di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, menyampaikan biografi R.M. Suryopranoto dengan sangat baik dalam buku "Anak Bangsawan Bertukar Jalan". Buku ini ditulis menggunakan metode penulisan sejarah berdasarkan berbagai sumber primer maupun sekunder, membuat tulisannya empiris. Buku ini ditulis dalam 247++ halaman dan menceritakan R.M. Suryopranoto mengenai latar belakang, perjalanan hidup, peran dalam masa sampai pasca pergerakan nasional.
Suryopranoto kecil telah diberikan keleluasan ayahnya untuk bermain dengan "wong cilik". Sebuah perlakuan pendobrak tradisi kalangan istana saat itu yang mayoritas masih berlindung dibawah belas kasihan Pemerintah Kolonial. Sejak kecil Ia telah dibiasakan dengan pewayangan, inilah yang turut mempengaruhi Suryopranoto terutama mengenai refleksi dirinya.

Suryopranoto yang mendapatkan ijazah di sekolah kolonial (ELS, MULO dan Europeesch Afdeeling) akhirnya menjadi pegawai pemerintahan kolonial urusan pertanian. Melihat banyaknya masyarakat yang dijadikan buruh paksa dengan perlakuan semena-mena, membuatnya memberontak dan berani menentang atasannya. Keberanian itu membuatnya seringkali dipindahtugaskan.

Ia menjadikan gambaran Krokosono yang mendobrak kebiasaan masyarakat zamannya menuju perubahan dan menjadikan Bimo sebagai simbol rela berkorban demi kepentingan rakyat. Selain itu pemikirannya terbentuk melalui perjumpaan dengan tokoh-tokoh pada masanya. Persahabatan dengan Van Hinloopen Labberton menjadikannya terpengaruh paham 'theosofie'. Sedangkan kedekatan dengan Douwes Dekker yang memiliki bibliotheek (perpustakaan) sendiri menambah wawasannya semakin luas. Suryopranoto mulai menuangkan gagasannya melalui tulisan di media massa Bataviaach Newsblaad sebagai pembantu redaksi.

Peran di organisasi pergerakan nasional melalui Budi Utomo sebagai Sekretaris Pengurus Besar Budi Utomo. Posisinya sangat sesuai dengan kemampuan penguasaan Bahasa Jawa dan Bahasa Belanda. Namun akhirnya karir di sana tidak berjalan mulus ketika terjadi pertentangan mengenai keanggotaan Budi Utomo. Ia menentang keras keanggotaan hanya dibatasi bagi Suku Jawa.

Selepas dari Budi Utomo, Suryopranoto menjadi pengurus aktif di Sarekat Islam (SI). Ia merupakan orang penting kedua setelah Cokroaminoto selaku Ketua SI. SI yang berkembang pesat mulai militan dan penuh daya juang. Usaha untuk menyokong pergerakan politik nasional dilakukan, atas inisiatif Suryopranoto dibentuklah sarekat pegawai/buruh dalam berbagai sektor untuk menyaingi serikat serupa bentukan kolonial. Melalui itu kebijakan-kebijakan dibuat, termasuk mogok pegawai di perusahaan kolonial. Hingga Ia dikenal sebagai "Raja Mogok". Akhirnya muncul masa krisis di tubuh SI. Suryopranoto dipecat dari SI dan akhirnya membentuk Partai Islam Indonesia (PAARII).

Singkat cerita, Ia yang semakin tua membuat kesehatannya menurun. Suryopranoto yang dulu dikenal radikal dalam geraknya melawan belanda akhirnya menjadi melemah. Ia lebih mencurahkan dirinya untuk membuka kursus ilmu pengetahuan pada sore dan malam hari, seperti tata negara, sejarah, ekonomi, etnologi, sosiologi dan geometri. Di akhir masa tuanya, Suryopranoto mulai fokus terhadap spiritualitasnya dengan mendalami al-Quran dan mengumpulkan artikel Islam yang dimuat di media massa untuk dibuat kliping.

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun