Type something and hit enter

author photo
By On
BIOGRAFI
Oleh: Annisak Shalihah, Delia Eka Astari, dan Khaolil Mudlaafar

Ilustrasi: Biography and History - Kholil Media
Ilustrasi: Biography and History - Kholil Media
People vector created by pikisuperstar - www.freepik.com
A.    Pengertian Biografi
Secara etimologis, kata “Biografi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Bios” yang artinya hidup dan “Graphien” yang artinya tulisan. Sehingga secara singkat pengertian biografi adalah tulisan yang membahas mengenai kehidupan seseorang. Biografi merupakan riwayat hidup tokoh yang ditulis oleh orang lain, baik tokoh tersebut masih hidup atau sudah meninggal. Sedangkan riwayat hidup yang ditulis sendiri disebut otobiografi. Biografi adalah salah satu mosaik penting dalam sejarah, bahkan terdapat pendapat bahwa sejarah adalah kumpulan dari biografi. Melalui biografi dapat dipahami para pelaku sejarah, zaman yang menjadi latar belakang biografi, lingkungan sosial-politiknya.

Selain biografi, ada juga yang disebut otobiografi. Otobiografi adalah biografi yang ditulis sendiri oleh sang tokoh. Kekuatan otobiografi terletak dalam keterpaduan yang utuh sehingga pembaca tahu bagaimana penulis memahami diri, lingkungan sosial-budaya, dan zamannya. Otobiografi adalah refleksi yang otentik dari pengalaman seseorang. Adapun kelemahan otobiografi ialah pandangan yang parsial terhadap sejarah zamannya (orang tidak mungkin mengalami sejarah secara keseluruhan), subjektif (pandangan pribadi tentang sejarah), dan proses sejarah yang belum final (ditulis hanya sampai saat dikerjakan).


Setiap biografi biasanya mengandung 4 hal, yaitu (1) kepribadian tokohnya; kepribadian sangat ditonjolkan bagi mereka yang menganut Hero in History. Mereka percaya bahwa sejarah adalah kumpulan biografi. Individu lah yang mendorong transformasi sejarah, (2) kekuatan sosial yang mendukung, (3) lukisan sejarah zamannya, (4) keberuntungan dan kesempatan yang datang; para tokoh muncul berkat adanya faktor luck, coincidence, atau chance dalam sejarah. Sehubungan dengan kepribadian tokoh, sebuah biografi perlu memperhatikan adanya latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan sosial budaya, dan perkembangan diri.

Biografi adalah sejarah, sama halnya dengan sejarah kota, negara, atau bangsa. Sayang, banyak biografi ditulis oleh sejarawan tetapi oleh pengarang dan jurnalis. Padahal, biografi lebih marketable daripada buku-buku sejarah biasa. Ladang yang subur ini belum mendapat perhatian yang memadai dari sejarawan dan mahasiswa sejarah. Hal ini terjadi mungkin karena sulitnya mencari sumber, wawancara untuk sebuah biografi sendiri memerlukan kepercayaan yang tinggi dari narasumber terkait yang mana sulit diperoleh oleh mahasiswa atau sejarawan muda.

B.    Biografi Kolektif
    Biografi kolektif (prosopography) adalah penelitian tentang sekelompok orang yang mempunyai karakteristik latar belakang yang sama dengan mempelajari kehidupan mereka. Latar belakang yang sama itu berarti zaman (rentang waktu, abad, tahun), persamaan nasib, kedudukan ekonomi, persamaan pekerjaan, dan persamaan pemikiran yang sama. Dalam serba “persamaan”, selain persamaan itu sendiri, pasti ditemukan juga perbedaan, kontras, varian, bahkan pertentangan. Di Indonesia sendiri prosopografi mempunyai harapan untuk berkembang. Buku yang terbit pada zaman pendudukan Jepang oleh Gunseikanbu mengenai orang-orang Indonesia terkemuka  di Jawa, riwayat-riwayat hidup anggota parlemen  (MPR, DPR), dan buku Leo Suryadinata tentang orang-orang Cina keturunan yang terkenal dapat menjadi pijakan pertama dalam penulisan prosopografi.

C.    Biografi dan Sejarah
    Studi tentang masa lalu baik untuk kesenangan, instruksi, atau perkembangan moral didasarkan pada membaca terkait sejarah maupun biografi. Hal itu adalah rekomendasi paling dasar yang diminta untuk menjelaskan sebuah studi tentang masa lalu. Jika sejarah menggambarkan suatu bangsa atau kelompok manusia, biografi membahas tentang individu tertentu yang memiliki kaitan dengannya. Biografi membahas mengenai seseorang yang bisa membawa makna sosial (social significant) bagi masyarakat atau dalam suatu peristiwa. Layaknya sejarah, biografi memiliki warna dalam pengemasannya, biografi lebih dari sebuah konsep untuk membentuk ulang kreasi literasi, lebih dari sebuah potret galeri wajah yang menawan, lebih dari sebuah pelajaran yang membuat kepribadian masa lalu terlihat jelas. Keduanya memang memiliki jalan yang sama dan saling berkontribusi satu sama lain untuk mengerti konsep sejarah.

Tidak bisa dipungkiri banyak karya penulisan sejarah yang memiliki cakupan sirkulasi yang luas dan cenderung mendekati karya biografi. Biografi memiliki warna sendiri untuk membahas masa lalu dan dapat memperkaya masa depan, biografi bisa memberikan keterangan berupa kejelasan sebuah perjalanan hidup seseorang yang biasanya terkait dengan sebuah peristiwa besar dan membuka wawasan secara lebih konkrit, jelas, dan pasti. Bagi seseorang yang belum dapat berimajinasi dengan jelas dan memberikan gambaran sebuah sejarah dari tulisan yang sudah pernah dibuat sebelumnya, biografi merupakan sebuah alternatif untuk membantu seseorang untuk mengerti sebuah rangkaian kronologi sejarah. Biografi selalu menjadi kajian yang memanusiakan masa lalu dan pengalaman personal. Elemen yang didapat dari sebuah pengalaman personal bisa memberikan keterangan yang lebih jelas dan mengerucut dibanding harus melihat keterangan dari sebuah pandangan ekonomi, misalnya.

Ada tiga argumen yang menjelaskan bagaimana sebuah biografi digunakan sebagai pendekatan terhadap sejarah. Pertama, biografi menyederhanakan masa lalu untuk meneliti lebih jelas sebuah sejarah yang kompleks yang mengundang kita untuk meneliti lebih jelas tentang Reformasi Gereja, era Napoleon, Perang Saudara Amerika dengan referensi dan ide dari seorang yang mengalami kejadian tersebut.  Kedua, pendekatan biografi terhadap sejarah biasanya bersifat subjektif dan sering bias. Namun, disamping sifatnya yang bias itu biografi tetap memberikan penjelasan sebuah ide, rasa emosional, dan patriotik. Ketiga, biografi tidak menawarkan pemahaman tentang aksi massa atau hukum sosial. Objek biografi ini tidak dapat dibantah, karena sudah banyak penulis yang melakukan pemeriksaan dalam jumlah besar mengenai kehidupan sejarah sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemahaman baru tentang fase khusus masa lalu.

Biografi menjadi jalan memahami realitas di masa lalu melalui pemahaman mendalam psikologis para pelakunya. Melalui biografi, realitas pada suatu masa sang tokoh berada bisa diketahui, meskipun sejatinya hal itu susah untuk dipahami. Oleh karena itu, biografi menjadi penting dalam kekuatan studi sejarah karena pelaku sebagai subjek sejarah turut memberikan pengaruh terhadap terjadinya suatu peristiwa sejarah. Biografi yang baik memberikan informasi lengkap dan akurat yang dengan hati-hati menjelaskan keterkaitan tokoh dan posisinya dalam peristiwa sejarah. Idealnya, sebuah biografi merupakan investigasi mendalam terhadap seseorang yang bisa menggabungkan pengaruh, kekuatan interpretasi yang kritis terhadap kehidupannya, dan penggunaan kalimat yang bisa menarik para pembaca.



D.    Contoh Biografi
1. Judul Buku: Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Pengarang: Cindy Adams
Penerjemah: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo
Tahun Terbit: 2007
Tebal Buku: 415 halaman
Soekarno - Kholil Media
Soekarno - Kholil Media
(Sumber: Beritasatu.com)
Bung Karno adalah nama besar yang menjadi ingatan kolektif Bangsa Indonesia. Namanya diperbincangkan banyak kalangan; mulai dari sisi mistisme hingga pidatonya yang meledak-ledak. Banyak orang mengunjungi tempat kramat di selatan Pulau Jawa yang disebut-sebut sebagai petilasan Bung Besar ini, juga, banyak politisi meniru gaya berpakaian dan teknik berpidato beliau untuk meraup untung suara menjelang pemilihan umum.

Otobiografi ini tidak ditulis sendiri oleh Bung Karno, namun dibantu oleh wartawati kebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams. Mulanya Bung Besar keberatan, “Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan (subjektifitas dan objektifitas) antara keduanya. Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek agar orang mau membeli buku itu. Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk?”  Namun karena dibujuk duta besar Amerika saat itu, dan kesadaran bahwa beliau sudah tua akhirnya beliau bersedia menuturkan kisahnya dalam sebuah otobiografi.

Buku yang ditulis dengan gaya berbicara Bung Karno itu merupakan perjalanan panjang beliau dari mulai dilahirkan saat fajar menyingsing, perjuangannya dengan kemiskinan di masa kolonialisme Belanda, ‘pertapaannya’ dari penjara ke penjara, pidatonya yang meledak-ledak di hadapan masa, proklamasi, agresi militer belanda hingga firasat akhirnya akan kematian.

Membaca otobiografi ini seolah pembaca mendengar Bung Karno bertutur sendiri kepadanya. Seperti seorang bapak bijak yang memberi tahu alasan-alasan kebijakannya kepada sang anak, karena mungkin sang anak belum mengerti dan memang tujuan beliau menulis otobiografi ini adalah “agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta.”

Politik, ekonomi, cinta, perseteruan rumah tangga dan kegemaran Sang Proklamator dibahas di dalam buku ini. Buku yang menjadikan sosok Bung Karno layaknya rakyat kebanyakan dengan kegemaran makan sate di pinggir jalan dan berbicara dengan bahasa daerah kepada petani miskin di wilayah priyangan. Bahkan perseteruan dengan istri-istrinya-pun beliau tulis di dalam buku ini. Pada saat pembaca selesai membaca mungkin akan tertegun sejenak dan berpikir, tidak ada pemimpin republik yang pantas mengantikan posisi Bung Karno, Sang Penyambung Lidah Rakyat.

2. Judul Buku: Anak Bangsawan Bertukar Jalan
Pengarang: Budiawan
Penerbit: PT. LkiS Pelangi Aksara Yogyakarta
Tahun Terbit: 2006
Tebal Buku: 248 halaman
Buku “Anak Bangsawan Bertukar Jalan” - Kholil Media
Buku “Anak Bangsawan Bertukar Jalan” - Kholil Media
(Dokumentasi Pribadi)
Buku ini menceritakan tentang Biografi R.M. Suryopranoto mengenai latar belakang, perjalanan hidup, peran dalam masa sampai pasca pergerakan nasional. Suryopranoto kecil telah diberikan keleluasan ayahnya untuk bermain dengan ‘wong cilik’. Sebuah perlakuan pendobrak tradisi kalangan istana saat itu yang mayoritas masih berlindung dibawah belas kasihan Pemerintah Kolonial. Sejak kecil ia telah dibiasakan dengan pewayangan, hal inilah yang turut mempengaruhi Suryopranoto terutama mengenai refleksi dirinya.

Suryopranoto yang mendapatkan ijazah di sekolah kolonial (ELS, MULO dan Europeesch Afdeeling) akhirnya menjadi pegawai pemerintahan kolonial urusan pertanian. Melihat banyaknya masyarakat yang dijadikan buruh paksa dengan perlakuan semena-mena, membuatnya memberontak dan berani menentang atasannya. Keberanian itu membuat Suryopranoto seringkali dipindahtugaskan.

Ia menjadikan gambaran Krokosono yang mendobrak kebiasaan masyarakat zamannya menuju perubahan dan menjadikan Bimo sebagai simbol rela berkorban demi kepentingan rakyat. Selain itu pemikirannya terbentuk melalui perjumpaan dengan tokoh-tokoh pada masanya. Persahabatan dengan Van Hinloopen Labberton menjadikannya terpengaruh paham theosofie.  Sedangkan kedekatan dengan Douwes Dekker yang memiliki bibliotheek (perpustakaan) sendiri menambah wawasannya semakin luas. Suryopranoto mulai menuangkan gagasannya melalui tulisan di media massa Bataviaach Newsblaad sebagai pembantu redaksi.

Suryopranoto memiliki peran di organisasi pergerakan nasional sebagai Sekretaris Pengurus Besar Budi Utomo. Posisinya sangat sesuai dengan kemampuan penguasaan Bahasa Jawa dan Bahasa Belanda yang dimiliki. Namun akhir karir di sana tidak berjalan mulus ketika terjadi pertentangan mengenai keanggotaan Budi Utomo. Ia menentang keras keanggotaan hanya dibatasi bagi Suku Jawa.

Selepas dari Budi Utomo, Suryopranoto menjadi pengurus aktif di Sarekat Islam (SI). Ia merupakan orang penting kedua setelah Cokroaminoto selaku Ketua SI. SI yang berkembang pesat mulai militan dan penuh daya juang. Usaha untuk menyokong pergerakan politik nasional dilakukan, atas inisiatif Suryopranoto dibentuklah sarekat pegawai/buruh dalam berbagai sektor untuk menyaingi serikat serupa bentukan kolonial. Melalui itu kebijakan-kebijakan dibuat, termasuk mogok pegawai di perusahaan kolonial. Hingga Ia dikenal sebagai ‘Raja Mogok’. Akhirnya muncul masa krisis di tubuh SI. Suryopranoto dipecat dari SI dan akhirnya membentuk Partai Islam Indonesia (PAARII).

Ia yang semakin tua membuat kesehatannya menurun. Suryopranoto yang dulu dikenal radikal dalam geraknya melawan belanda akhirnya menjadi melemah. Ia lebih mencurahkan dirinya untuk membuka kursus ilmu pengetahuan pada sore dan malam hari, seperti tata negara, sejarah, ekonomi, etnologi, sosiologi dan geometri. Pada akhir masa tuanya, Suryopranoto mulai fokus terhadap spiritualitasnya dengan mendalami al-Quran dan mengumpulkan artikel Islam yang dimuat di media massa untuk dibuat kliping.

E.    Kemungkinan Biografi yang Bisa Ditulis
1.    Biografi Taat Pribadi
Taat Pribadi - Kholil Media
Taat Pribadi - Kholil Media
(Sumber: Beritasatu.com)
Pada paruh akhir tahun 2016, berbagai media ramai memuat berita tentang penangkapan Taat Pribadi. Ia ditangkap di area tempatnya memimpin, yaitu Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, RT 22 RW 08 Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Penangkapan itu dilakukan setelah ia mangkir tiga kali dari panggilan penyidik Polisi Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) terkait kasus penipuan penggandaan uang dan pembunuhan. Penangkapannya melibatkan 2.000 personel polisi dengan persenjataan lengkap, alasannya adalah untuk keamanan dan antisipasi perlawanan dari para pengikutnya.

Taat Pribadi merupakan pemimpin karismatik bagi para pengikutnya. Hal ini terbukti karena pengikutnya patuh untuk melaksanakan ajaran dan ritual-ritual aneh yang diperintahkan agar bisa melakukan penggandaan uang, meskipun ajaran dan ritual-ritual itu dinilai musrik oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo dan dinilai tidak masuk akal. Pengikutnya mencapai jumlah 23 ribu orang, ia menjadi pemimpin dengan sebutan ‘Dimas Kanjeng’.

Para pengikutnya tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya mereka telah ditipu dan diperdaya oleh Taat Pribadi. Praktik penipuan yang dilakukannya melibatkan ribuan orang dari semua golongan, termasuk seorang akademisi dan politikus, karena sebagian masyarakat masih bersikap irasional dan terperdaya kebudayaan 'ingin cepat kaya'. Bahkan doktor lulusan dari kampus di Amerika, Marwah Daud Ibrahim, juga berhasil diperdaya olehnya. Padahal Marwah merupakan politikus partai dan salah satu tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ia juga berhasil membangun citra diri untuk memikat pengikut-pengikutnya. Salah satunya dengan berhasil memperoleh gelar sebagai raja dari Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI).

Biografi Taat Pribadi memungkinkan untuk ditulis, sebab ia menjadi tokoh dalam fenomena yang menarik di Indonesia. Kemunculan sosok Taat Pribadi dengan berbagai tipu muslihatnya mampu memperdaya masyarakat dari berbagai kalangan, tidak hanya golongan bawah namun juga golongan atas dengan tingkat pendidikan dan jabatan tinggi dari golongan intelektual. Hal itu menjadi bukti bahwa realitas masyarakat masih banyak yang ingin mendapatkan sesuatu, termasuk kekayaan, secara instan dengan dalih ‘penggandaan uang’ yang dilakukan oleh Taat Pribadi.

2.    Biografi tokoh dalam jaringan narkoba (Sandra Gregory)
Sandra Gregory - Kholi Media
Sandra Gregory - Kholi Media
(Sumber: Dailyrecord.co.ud)
Salah satu chanel televisi, National Geographic pernah menguak sebuah cerita mengenai para drug dealers yang menjadi korban di luar negeri. Dikemas dalam bentuk tv seri yang berjudul "Locked Up Abroad", seri ini menjelaskan bagaimana proses orang tersebut bisa terjebak menjadi seorang drug dealer antarnegara dan berakhir di penjara.

Sandra Gregory salah satunya, ditahan di bandara Don Muang, kemudian dipenjara di Lard Yao, Penjara Pusat Klong Perm, Bangkok. Sebelum dipenjara, Sandra sudah pindah ke Thailand sejak tahum 1990 dan hidup selama kurang lebih 2 tahun disana. Ia mengajar sebagai seorang guru bahasa Inggris di berbagai universitas dan sekolah. Namun akibat adanya gerakan dari kelompok pro-demokrasi di Thailand pada tahun 1991, kehidupannya mulai tidak tertata kembali dan Sandra memutuskan untuk kembali ke Inggris. Sebelum kembali ke Inggris, Sandra ditugaskan membawa suplai heroin untuk kekasihnya di Inggris. Dengan iming-iming sejumlah £1000 jika berhasil kembali dengan selamat, Sandra menyetujui hal itu. Namun justru Sandra tidak berhasil terbang ke Inggris karena pihak bea cukai bandara Don Muang mengetahui gerak-gerik Sandra yang sedang berusaha untuk membawa heroin ke Inggris. Sandra kemudian ditahan di Thailand selama dua tahun dan kemudian dipindahkan ke Inggris dalam tahanan kota dengan lapis keamanan yang ketat. Sandra baru bebas pada tahun 2000. Ia kemudian memulai hidup barunya sebagai seorang guru di Oxford University.

Cerita ini memungkinkan untuk diangkat sebagai sebuah biografi karena cerita ini menjelaskan bagaimana ulasan cerita seorang warga sipil yang belum pernah terkait dengan kartel narkoba sebelumnya namun karena kebutuhan hidup ia harus menanggung resiko untuk membawa barang tersebut ke luar negeri. Kehidupan mengenai jaringan narkoba dalam beberapa kasus bahkan melibatkan banyak pihak di tempat yang semestinya terbebas dari narkoba. Penjara (rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan) menjadi salah satu contoh rumit dalam jaringan peredaran narkoba. Para pengedar narkoba bahkan berhasil lolos dari jeratan hukum karena dalam perbuatannya melibatkan petugas sipir, ketua lembaga atau pihak lainnya yang lebih tinggi. Fenomena tersebut menjadi realitas yang bisa diungkapkan bahwa ternyata ada pihak-pihak tertentu (jaringan narkoba) yang semestinya mereka diatur oleh narkoba, akan tetapi menjadi sebaliknya, negara yang berhasil diatur olehnya dengan memanfaatkan oknum aparat negara. Biografi mengenai tokoh yang terlibat dalam jaringan narkoba, khususnya peredaran narkoba di lingkungan penjara, belum banyak yang ditulis.

3.    Biografi Kivlan Zen
Kivlan Zen - Kholil Media
Kivlan Zen - Kholil Media
(Sumber: Tempo.co)
Satu diantara banyak kasus yang melibatkan jaringan internasional adalah penyanderaan awak kapal Warga Negara Indonesia oleh Kelompok Bersenjata Abu Sayyaf. Pada tahun 2014 sekitar 14 orang di sandera kelompok separatis Filipina tersebut, mereka merupakan awak kapal tugboat Brahma 12 dan kapal tongkang Anand yang bermuatan batu bara. Pemerintah melakukan upaya untuk pembebasan awak kapal yang disandera tersebut dengan menerjunkan tim gabungan. Upaya itu berjalan lancar dengan melibatkan tokoh Indonesia yang memiliki kedekatan dengan Pemerintah Filipina untuk melakukan negosiasi. Salah satu negosiator yang berperan penting adalah Kivlan Zen. Ia merupakan pensiunan Kepala Staf Kostrad dengan pangkat mayor jenderal. Pada tahun 1995-1996 Kivlan terlibat dalam operasi perdamaian di Filipina. Dia juga pernah mendapatkan penghargaan Filipina Pridentialbath.

Kelompok Bersenjata Abu Sayyaf meminta tebusan uang untuk pembebasan para awak kapal yang disandera itu. Sejatinya perusahaan tempat awak kapal tersebut sudah menyiapkan uang sebagai tebusan yang dibawa oleh Budiman, utusan perusahaan kapal, bersama tim gabungan dan negosiator. Akan tetapi uang tersebut dibawa kembali, sebab Kivlan berhasil melakukan negosiasi dengan kelompok tersebut, sehingga pembebasan sandera dilakukan tanpa harus melakukan syarat yang diberikan di awal.

Kivlan memanfaatkan jejaring dengan Pemerintah Filipina setempat berdasarkan pengalaman pribadinya. Upaya negosiasi Kivlan dibantu oleh pimpinan Filipina yaitu tokoh The Moro National Liberation Front (MNLF) Nur Misuari dan Gubernur Sulu Abdusakur Toto Tan. Kedekatan Kivlan dengan kedua tokoh itu merupakan hasil dari pengalamannya yang bertugas sebagai bagian dari pasukan perdamaian di Filipina Selatan pada tahun 1995.

Hal itu menjadi menarik, sebab pengalaman individu bisa menjadi cara untuk menyelesaikan kasus internasional. Bahkan tim gabungan yang dibentuk pemerintah terkait kasus yang terjadi tidak bisa menjamin para sandera bisa dibebaskan tanpa tebusan. Kedekatan Kivlan Zen dengan tokoh penting di Filipina dari pengalaman bertugasnya menjadi sebab pemerintah berhasil melakukan negosiasi dengan baik.

4.    Biografi tokoh-tokoh dalam dunia kehakiman
Seorang hakim menjadi salah satu tokoh yang bisa membuat makna sosial (social significant) sebab jabatan yang dimilikinya. Hakim tidak selamanya menjabat di daerah yang sama, seringkali mereka dipindahtugaskan ke daerah lain yang bisa jadi jauh berbeda dengan daerah sebelumnya. Pengalamannya bertugas di berbagai daerah itulah yang pada akhirnya bisa diketahui bahwa kasus-kasus atau tindak kriminalitas tidak bisa digeneralisasikan antara suatu daerah dengan daerah lainnya. Kriminalitas yang terjadi bisa berasal dari berbagai faktor, seperti kondisi geografis, kebijakan daerah, dan budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, biografi seorang tokoh dalam dunia kehakiman menjadi salah satu topik yang menarik untuk ditulis.


DAFTAR PUSTAKA
Ambaranie Nadia Kemala Movanita. 2016a. "Alasan di Balik 2.000 Personel Polri untuk Tangkap Dimas Kanjeng Taat Pribadi". Kompas.com. (Online). Tersedia di https://nasional.kompas.com/read/2016/09/27/15545321/alasan.di.balik.2.000.personel.polri.untuk.tangkap.dimas.kanjeng.taat.pribadi. Diakses pada 18 Mei 2019.

______. 2016b. "Polri Sebut Ada Peran Kivlan Zen dalam Pembebasan 10 WNI ". Kompas.com. (Online). Tersedia di https://nasional.kompas.com/read/2016/05/02/19061771/Polri.Sebut.Ada.Peran.Kivlan.Zen.dalam.Pembebasan.10.WNI. Diakses pada 20 Mei 2019.

Anonim. 2016. “Ini Kronologi Penangkapan Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng”. Kabarpas.com. (Online). Tersedia di http://www.kabarpas.com/2016/09/22/kronologi-penangkapan-pimpinan-padepokan-dimas-kanjeng/. Diakses pada 18 Mei 2019.

Arbi Sumandoyo. 2016. “Ketika Doktor Marwah Terpincut Dimas Kanjeng”. Tirto.id. (Online). Tersedia di https://tirto.id/ketika-doktor-marwah-terpincut-dimas-kanjeng-bQri. Diakses pada 18 Mei 2019.

Aries Sudiono. 2016. “Kronologi Kasus Dimas Kanjeng, Pimpinan Padepokan "Bank Gaib" yang Menghabisi Santrinya”. Beritasatu.com. (Online). Tersedia di https://www.beritasatu.com/nasional/389281/kronologi-kasus-dimas-kanjeng-pimpinan-padepokan-bank-gaib-yang-menghabisi-santrinya. Diakses pada 18 Mei 2019.

Budiawan. 2006. Anak Bangsawan Bertukar Jalan. Yogyakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara Yogyakarta.

Cindy Adams. 2007. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo.

Fajar Pratama. 2016. “Kivlan Zen, Pembebasan Sandera dan Sejarah Perdamaian di Filipina”. Detik.com. (Online). Terserdia di http://news.detik.com/berita/3201524/kivlan-zen-pembebasan-sandera-dan-sejarah-perdamaian-di-filipina. Diakses pada 20 Mei 2019.

Gregory, Sandra. 2006. “There is No Moving on From a Past Like Mine”. Independent.co.uk. (Online). Tersedia di https://www.independent.co.uk/news/people/profiles/there-is-no-moving-on-from-a-past-like-mine-5330603.html. Diakses pada 20 Mei 2019.

Hayder Affan. 2016. “Mengapa Dimas Kanjeng mampu himpun ribuan anggota?”. Bbc.com. (Online). Tersedia di https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161003_indonesia_dimaskanjeng. Diakses pada 18 Mei 2019.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nevins, Allan. 1962. The Gateway to History. New York: Anchor Books, Doubleday & Company.

Reza Aditya. 2016. “Kivlan Buka Rahasia, Alasan Moro Terlibat Negosiasi Sandera Abu Sayyaf”. Tempo.co. (Online) Tersedia di https://nasional.tempo.co/amp/767802/kivlan-buka-rahasia-alasan-moro-terlibat-negosiasi-sandera-abu-sayyaf. Diakses pada 20 Mei 2019.

Ria Marginingsih. 2016. “Kepemimpinan Karismatik Sebagai Employer Branding”. Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol. 2. No. 2. Hlm. 32-51.

Smith, Louis M. 2009. “Metode Biografis”, dalam Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative Reseacrch. Terjemahan Dariyatno, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suriyanto. 2016. “Tanpa Tebusan, Pembebasan 10 Sandera Dibantu Tokoh Filipina”. Cnnindonesia.com. (Online). Tersedia di https://www. cnnindonesia.com/nasional/20160502064456-20-128005/tanpa-tebusan-pembebasan-10-sandera-dibantu-tokoh-filipina. Diakses pada 20 Mei 2019.

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun