Type something and hit enter

author photo
By On
Perkembangan Bahasa sebagai Identitas Kawasan Asia Tenggara
Ilustrasi: Asia Tenggara - Kholil Media
Ilustrasi: Asia Tenggara - Kholil Media
Background photo created by www.slon.pics - www.freepik.com
Latar Belakang
Pesatnya perkembangan teknologi serta pertumbuhan ekonomi dunia saat ini berimplikasi pada tumbuhnya komunitas-komunitas antar bangsa untuk mengakomodir berbagai kepentingan bersama. Kepentingan tersebut meliputi bidang ekonomi, pertahanan, sosial, seni-budaya, dan teknologi. Pembentukan komunitas antar negara dalam satu wilayah sangat diperlukan untuk memajukan sektorsektor penting dari setiap negara anggota. Kesadaran ini muncul atas dasar fakta bahwa sebuah negara tidak dapat berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Menggandeng negara-negara tetangga dalam ruang lingkup simbiosis mutualisme adalah salah satu cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak tercukupi dalam negeri.

Kebutuhan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi muara dari pembentukan komunitas antar negara dalam suatu wilayah tertentu. Ekspansi produksi dalam negeri dan pemenuhan komoditi, pilihan pendidikan, peningkatan keamanan regional, kerjasama penangkapan pelaku tindak kriminal, serta menjaga hubungan baik antar negara adalah sebagian dari tujuan esensial perlunya terbentuknya komunitas tersebut.

Bahasa berperan penting dalam komunikasi antar negara dengan berbagai kebudayaan. Sebuah komunitas dengan beragam bahasa induk akan menyulitkan proses komunikasi. Kesatuan bahasa nantinya akan memudahkan setiap orang dalam bertransaksi, pembuatan dokumen kerjasama, pelabelan produk, dan lain-lain. Oleh karena itu, kesatuan bahasa menempati posisi vital dan harus segera dirumuskan bersama. Atas dasar pemikiran tersebut, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sebagai sebuah komunitas regional negara-negara di Asia Tenggara yang beranggota negara-negara yang mempunyai bahasa induk yang berbeda beda perlu segera menentukan bahasa bersama.

Menurut Cliff Goddard dalam bukunya “The Languages of East and Southeast Asia: An Introduction”, menyebutkan persebaran bahasa di Asia Tenggara, yaitu bahasa Indonesia dan Malaysia (disebut Malay) sebanyak 200 juta, bahasa Jawa 75 juta, bahasa Sunda 30 juta, bahasa Tagalog 50 juta, dan sisanya bahasa yang lain. Untuk menjadi bahasa pemersatu antar negara, tentu terdapat persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan itu antara lain memiliki struktur bahasa yang sederhana, memiliki kesamaan struktur dasar, serta mempunyai sejarah filosofis yang diterima seluruh anggota.

Rumusan Masalah
1.    Bagaimana perkembangan bahasa di Asia Tenggara?
2.    Bagaimana upaya pembentukan identitas regional Asia Tenggara di masa modern dalam aspek bahasa?
3.    Bagaimana peran bahasa dalam interaksi masyarakat negara-negara Asia Tenggara di masa modern?

Metode Penulisan
Karya tulis ini dibuat menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menjelaskan mengenai bahasa di kawasan Asia Tenggara yang diperoleh dari sumber sekunder berupa pustaka buku, jurnal, dan internet.

Pembahasan
1.    Perkembangan Bahasa di Asia Tenggara
a.    Rumpun bahasa di Asia Tenggara
Bangsa Melayu itu tersebar di beribu-ribu pulau di Asia Tenggara sampai ke Madagaskar dan dalam isolasinya di pulau-pulau yang banyak yang terpisah-pisah itu bangkitlah beribu-ribu dialek bahasa Melayu yang luas itu yang akhirakhirnya beberapa ratus bahasa yang boleh ahli-ahli bahasa dapat diketahui kesatuan asalnya berdasarkan ciri-ciri kebahasaannya.

Sementara itu dalam perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara bahasa Melayu yang luas itu mendapat berbagai-bagai pengaruh dari bahsa Sansekerta, bahasa Cina dan kemudian dari bahasa Arab. Dalam isolasi di pulau-pulau yang sering terbagi-bagi pula oleh pergunungan, ngarai dan rimba belantara seperti misalnya di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi bangkitlah dalam beribu tahun berbagai-bagai bahasa. Tetapi mesti bagaimana sekalipun banyak ragam bahasa itu bagi ahli asal-usul dan pertumbuhan bahasa-bahasa itu yang terpecah-pecah dalam berbagai golongan tak dapat lagi saling mengerti sesamanya oleh perbedaan ucapan dan perbedaan bentuk kata-kata antara bahasa-bahasanya itu
Bersumber pada buku yang berjudul “Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah Sampai Kontemporer” dapat diketahui bersama bahwa setidaknya ada lima rumpun bahasa asli di wilayah Asia Tenggara yakni Austroasia, Austronesia, Tai, Tibet-Burma, dan Hmong-Mien. Bahasa Austroasia biasa disebut juga Mon-Khmer mencakup bahasa Vietnam dan Kambodja (Khmer), termasuk bahasa Mon (yang digunakan di sebagian Myanmar dan Thailand) dan beberapa kelompok etnis yang tersebar di dataran tinggi Vietnam, Laos, Kamboja dan Thailand. beberapa juga ditemukan di Thailand Selatan dan Malaysia. jadi cukup luas juga cakupan dari rumpun bahasa asli yang pertama ini. bila berbicara tentang kata "khmer" mengingatkan saya kepada seorang teman, adik angkatan dan  kolega diskusi yang keren bernama Dirga Fawakih yang mengambil bahasan skripsi tentang Khmer Merah, tapi saya tidak akan membahasnya lebih jauh lagi, mungkin nanti akan ada bahasan khusus tentang Khmer Merah atau penulis skripsinya itu.

Selanjutnya ada pula bahasa Austronesia, kata yang sering di dengar bila belajar sejarah Indonesia masa awal-awal (prasejarah). Bahasa Austronesia bisa juga disebut Melayu-Polinesia banyak ditemukan di Asia Tenggara Kepulauan (kecuali dengan bahasa melayu di Thailand Selatan, Semenanjung Malaysia dan Singapura), Indonesia dan Filipina hampir semuanya menggunakan penutur bahasa ini.

Rumpun bahasa Tai yang kadang disebut juga Tai-Kadai mencakup wilayah yang membentang dari perbatasan Vietnam dan Cina hingga Assam d daerah timurlaut India. Rumpun bahasa ini meliputi bahasa nasional Thailand, Laos, Vietnam dan Myanmar. Rumpun bahasa Tibet-Burma mencakup bahasa Burma, bahasa nasional negara Myanmar, dan ragam bahasa di dataran tinggi Asia Tenggara sebelah utara. Terakhir rumoun bahasa Hmong-Mien (yang sebelumnya dikenal Miao-Yao) digunakan oleh para pendatang dari Cina yang menetap di dataran tinggi Vietnam, Laos, Thailand. Tak disangka penelusuran tentang asal muasal rumpun bahasa asli di Asia Tenggara ini bisa sedikit mengungkap pula asal muasal tiap-tiap etnis asli yang kini mendiami negara-negara di Asia Tenggara, terlebih di Indonesai yang memiliki ratusan bahasa daerah yang diturunan dari rumpun bahasa-bahasa Asua Tenggara yang sudah dijelaskan di atas tadi.

b.    Interaksi negara-negera di Asia Tenggara dalam aspek bahasa
Di masa modern ini, negara-negara di Asia Tenggara terkumpul dalam sebuah forum/komunitas regional yang disebut ASEAN. Dalam hubungan antarnegara (terutama dalam forum resmi) bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

2.    Pembentukan Identitas Asia Tenggara di Masa Modern melalui Bahasa
a.    Sejarah ASEAN sebagai komunitas modern di Asia Tenggara

Sejak didirikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok, dengan penanda-tanganan Deklarasi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau (Bangkok Declaration) oleh lima negara pendirinya, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, ASEAN berkembang menjadi komunitas regional yang berpengaruh yang kini meliputi 10 negara anggota--Brunei (1984), Viet Nam (1995), Lao PDR (1997), Myanmar (1997), dan Cambodia (1999) (www.asean.org).

Pendirian ASEAN ditujukan untuk mengikhtiarkan pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial dan budaya dalam semangat kemitraan dan kesetaraan; mengupayakan perdamaian dan stabilitas regional dengan menghormati prinsip keadilan dan hukum; mengupayakan kerjasama antar anggota untuk kepentingan-kepentingan bersama, saling memberi bantuan dalam pendidikan, riset, dan keprofesian. Selain itu, ASEAN didirikan untuk menjalin kolaborasi yang efektif dalam bidang pertanian, industri, dan ekonomi, termasuk mengkaji hambatan-hambatan dalam komunikasi dan transportasi antar negara-negara anggotanya; mewujudkan standar penghidupan yang layak; mengembangkan kajian-kajian ke-ASEAN-an dan meningkatkan kerjasama saling menguntungkan dengan komunitas-komunitas lain di berbagai belahan dunia.

Kini dengan arus globalisasi yang makin deras pada dua dasa warsa terakhir, ditandai oleh pergerakan kapital dan sumber daya yang ekstensif (comparative advantage, competitive advantage), trend teknologi informasi cyber dalam berbagai tingkat kehidupan (cell-based transmission technology, digital revolution), dan saling ketergantungan antar negara (global economy, interdependence), maka makin dirasakan urgensi bagi ASEAN kini untuk mempertegas jati dirinya sebagai himpunan negara-negara yang memiliki prospek dan kekhasan tersendiri di Asia Tenggara. Pada saat yang sama, ASEAN memang selayaknya menyadari posisinya sebagai bagian dari masyarakat Asia pada umumnya yang ditantang untuk sigap menghadapi gelombang perubahan ekonomi dunia yang sejak 1980-an pelahan tapi pasti mengarah ke kontinen Asia (Asian Century) dengan episentrum di daratan Tiongkok dan India. Pengukuhan jati diri bagi ASEAN akan menentukan kapasitas daya saing dan perannya sebagai bagian dari pewaris Abad Asia. Di lain pihak, pengukuhan jati diri secara inheren juga akan memperkuat soliditas kawasan dalam rangka memenuhi agendaagenda bersama dan mencapai apa yang menjadi tujuan awal pendirian ASEAN.

b.    Identitas ASEAN
“Identitas” merupakan konsep yang rumit dan kompleks. Dikatakan rumit karena tidak mudah mendefinisikannya baik dalam artian content maupun process mengingat berbagai konteks dan variable yang saling bertemali. Dikatakan kompleks karena istilah identitas bersifat multifaceted dan hirarkis—personal, sosial, relasional, dan material; menyangkut peran, kedudukan dan afiliasi lembaga; melibatkan dinamika emosi dan alam pikiran pelakunya yang senantiasa berubah; dan bergerak antara doing dan being. “Identitas ASEAN” menggambarkan fenomena ini.
Identitas ASEAN tertuang dalam mottonya “one vision, one identity, one community”. Dalam hal visi, ASEAN memandang dirinya sebagai “a concert of Southeast Asian nations, outward looking, living in peace, stability and prosperity, bonded together in partnership in dynamic development and in a community of caring societies.” Dokumen 12th ASEAN Summit Cebu, Philippines, tahun 2006, juga menyebutkan bahwa ASEAN akan bergerak menjadi “a community conscious of its diverse cultures and bounded by a common regional awareness, where people strive for equitable access to opportunities for total human development regardless of gender, race, religion, language, or social and cultural background”.
 Jadi, visi ASEAN adalah harmoni, kemitraan, perdamaian, stabilitas, kesejahteraan, perkembangan yang dinamis dan menyeluruh dalam kerukunan dan persahabatan bagi segenap warga negara-negara anggotanya.

c.    Pembentukan bahasa identitas

Saat ini dalam pertemuan-pertemuan resmi tingkat ASEAN, bahasa Inggris menjadi satu-satunya bahasa resmi. Memang agak aneh bahasa yang asalanya ribuan kilo mil dari ASEAN ini menjadi satu-satunya bahasa yang di akui. Seolah tidak ada lagi bahasa nasioanl di kawasan ASEAN yang bisa menjadi pendamping bahasa Inggris. Di Eropa tempat muasal bahasa Inggris, bahkan harus bersaing dengan bahasa nasional lainnya seperti bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Jerman dan bahasa Rusia.

Namun muncul sebuah gagasan untuk menjadikan bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi ASEAN. Akan tetapi gagasan tersebut belum bisa direalisasikan. Setahun lebih era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diterapkan. Namun penggunaan Bahasa Indoensia sebagai bahasa resmi Asean masih kurang efektif berlaku, bahkan cendrung kalah bila dibandingkan bahasa Inggris sebagai akibat pengaruh situasi secara global.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) Umar Solikhan menjelaskan, bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu pada perkembangannya menjadi semakin kaya kosakata dengan terjadinya penyerapan bahasa, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. "Satu sisi penyerapan bahasa menambah kaya kosakata Bahasa Indonesia, akan tetapi di sisi lain merupakan tantangan agar Bahasa Indonesia tidak kehilangan identitasnya sebagai bahasa negara," jelas Umar Solikhin.

Walaupun jumlah penutur Bahasa Indonesia mencapai 300 juta lebih di dunia, ujarnya, namun belum bisa diwujudkan sebagai bahasa internasional. Karena masyarakat Asean lebih condong menggunakan bahasa Inggris, termasuk masyarakat Indonesia sendiri. Umar menambahkan, bersekutunya negara di Asia Tenggara ke MEA, menguntungkan secara ekonomi namun khusus bagi bangsa Indonesia menjaga bahasa dari berbagai pengaruh baik secara fisik maupun nonfisik yang dapat menggoyahkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

3.    Peran Bahasa dalam Interaksi Masyarakat di Negara-negara Asia Tenggara
a.    Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan kawasan Asia Tenggara tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi. Negara-negara di kawasan ini juga berusaha untuk beradaptasi untuk mengikuti perkembangan tersebut. Dalam hal ini bahasa memiliki peran penting sebagai sarana menularkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Salah satu wujudnya adalah pertukaran informasi dari para penyuluh pertanian. Penyuluh yang ada di Indonesia bisa terintegrasi dengan penyuluh yang ada di berbagai negara yang tergabung dalam afiliasi ASEAN. Mereka bisa saling bertukar informasi, pengalaman dan perkembangan pertanian terbaru di masing-masing negara. Penyuluh di negara yang sedang berkembang bisa mempelajari sistem penyuluhan dan pertanian yang telah diterapkan oleh penyuluh di negara maju, sehingga ke depan bisa menciptakan sistem penyuluhan yang lebih baik bagi negaranya. Penyuluh dituntut untuk melakukan komunikasi lintas budaya dan beradaptasi dengan budaya tersebut. Tak bisa dipungkiri komunikasi menjadi kunci utama agar transfer informasi bisa berjalan lancar. 

b.    Sosial-Budaya
Bahasa berperan penting dalam bidang sosial-budaya. Hal itu dikarenakan negara-negara di Asia Tenggara memiliki latar belakang budaya yang beragam (multikultural). Sehingga ketika akan dilakukan pengkajian mengenai kehidupan sosial-budaya di kawasan ini, maka kemampuan bahasa-bahasa di kawasan Asia Tenggara perlu dimiliki. Bahasa bisa digunakan untuk menggali informasi dari penduduk/masyarakat yang notabene sebagai pelaku dalam kehidupan sosial-budaya tersebut.
c.    Politik
Forum resmi ASEAN dan semua organisasi dibawahnya mengharuskan setiap negara menggunakan bahasa resmi agar komunikasi dengan tujuan hubungan diplomasi bisa berjalan dengan lancar. Bahasa memainkan peran penting untuk menentukan kebijakan dalam forum ASEAN yang bermanfaat dalam kehidupan politik kawasan regional ini. Sehingga kebijakan yang telah dibuat bisa dipahami dengan baik oleh masyarakat di masing-masing negara anggota.

Kesimpulan
1.    Asia Tenggara yang multikutural menyebabkan beragamnya bahasa di kawasan ini. Namun dari banyak bahasa yang ada, dapat diketahui bersama bahwa setidaknya ada lima rumpun bahasa asli di wilayah Asia Tenggara yakni Austroasia, Austronesia, Tai, Tibet-Burma, dan Hmong-Mien. Namun di masa modern ini, komunikasi antarnegara di Asia Tenggara menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi regional ini.

2.    Pada masa modern ini kawasan Asia Tenggara berusaha untuk membentuk suatu identitas dengan tujuan bersama. Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menjadi forum/komunitas resmi yang menyatukan negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tertuang dalam mottonya, yaitu “one vision, one identity, one community”. Salah satu perwujudan identitas tersebut adalah melalui bahasa. Saat ini bahasa Inggris masih menjadi satu-satunya bahasa resmi untuk komunikasi antar negara. Sebenarnya pernah muncul gagasan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN, akan tetapi dengan berbagai pertimbangan bahasa Indonesia dianggap belum efektif untuk dijadikan sebagai bahasa resmi di kawasan ini.

3.    Fungsi bahasa di kawasan Asia Tenggara digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Bahasa juga memiliki peran penting dalam interaksi masyarakat di negara-negara kawasan ini. Peran bahasa antara lain dalam bidang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang sosial-budaya, dan bidang politik sebagai diplomasi antarnegara.

Referensi
Anonim. 2013. Ayo Kenali ASEAN Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Goddard, Cliff. 2005. The Languages of South and Southeast Asia. New York: Oxford University Press.

Harmoko, Danang Dwi. 2015. Analisa Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Komunikasi Antar Negara Anggota Asean. Jakarta: Seminar Nasional Inovasi dan Tren (SNIT).

Prayoga Kadhung. Komunikasi Lintas Budaya Dalam Pengintegrasian Penyuluh Pertanian Di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Ricklefs, Merle Calvin Ricklefs, dkk. 2013. Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah Sampai Kontemporer. Jakarta: Komunitas Bambu.

Scwartz, Seth J., dkk. 2011. Handbook of Identitu Theory and Research. New York: Springer, vol. 1 dan 2.

Sudarsono, M.I. 2014. Identitas ASEAN, Bahasa Inggris, dan Indonesia. Bandung: Sekretaris Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia.

http://www.asean.org/news/item/ asean-vision-2020

http://www.12thaseansummit.orh.ph/asean_vissionmission.asp

https://golden-course.com/2negara-asean-bahasa-resminyah-bahasa-inggris/

http://riautribune.com/mobile/detailberita/7101/bahasa-indonesia-belum-efektif-sebagai-bahasa-resmi-asean

NB: Artikel ini telah tayang di Selasar dengan judul yang sama pada 1 September 2018.

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun