Type something and hit enter

author photo
By On
TRIO DI TANAH BORNEO

Bagaimana bersyukur dengan kondisi yang ada? Bagaimana cara menikmati hidup sebagai sebuah petualangan? Tulisan ini tentang cerita sepekan kami Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Lentera Borneo Universitas Sebelas Maret (UNS) Periode Juli  Agustus 2019 yang berangkat lebih awal. Saya sendiri, Khaolil Mudlaafar (humas), Edi Setiawan (humas), dan Nur Liyan (sponsorship), mendapatkan amanah dari teman-teman anggota tim untuk berangkat lebih awal bertiga guna mempersiapkan hal yang perlu disiapkan sebelum pelaksanaan KKN secara full team.


Tentunya kami tidak dengan tiba-tiba berada di Tanah Borneo (Kalimantan). Secara terencana dalam kesempatan KKN yang menjadi bagian dari perkuliahan, lebih tepatnya pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi poin pengabdian kepada masyarakat, setiap mahasiswa UNS diwajibkan untuk berbaur dengan masyarakat sebagai bagian darinya, wujud penerapan kapasitas keilmuan yang didapatkan. KKN Lentera Borneo yang sudah berjalan tiga periode ini, menjadi salah satu dari beberapa Program KKN Kemitraan (Mandiri) UNS Luar Jawa. Setelah dua periode sebelumnya dilaksanakan di Desa Sanatab, tahun ini pelaksanaannya berganti di Desa Kaliau’, namun tetap dalam wilayah yang sama yaitu di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.
Tim KKN Lentera Borneo
Tim KKN Lentera Borneo
Sejak tanggal 25 Mei 2019, semua Tim KKN Lentera Borneo sudah membeli tiket pesawat terbang untuk perjalanan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Supadio Pontianak. Pemberangkatan terjadwal pada tanggal 9 Juli 2019 sore hari, kecuali kami bertiga yang berangkat pada tanggal 3 Juli 2019 pagi hari (penerbangan awal). Penerbangan awal membuat kami bertiga berangkat dari Solo ke Yogyakarta pada malam hari sebelumnya, tanggal 2 Juli 2019, dengan alasan menghindari sesuatu yang kemungkinan bisa saja terjadi. Terlebih jika sampai telat dan tiket hangus yang artinya satu juta lebih uang melayang, nominal yang cukup besar bagi kami yang notabene berstatus sebagai mahasiswa dan masih mengandalkan orang tua. Tiga hari sebelumnya Nur Liyan telah membelikan tiket Kereta Api Prambanan Ekspres (Prameks) untuk kami, namun siang sebelum pemberangkatan saya izin kepada mereka berdua untuk tidak berangkat bersama dan akan menyusul setelahnya menggunakan bus. Sebab ternyata masih ada keperluan yang harus diselesaikan sebelum berangkat, sedangkan mereka tetap sesuai rencana awal naik Prameks dengan jadwal pukul 18.30 WIB. Setelah semuanya terselesaikan, saya berangkat menuju Terminal Tirtonadi guna mencari bus arah Solo – Yogyakarta, akhirnya naik Bus Eka sampai depan bandara. Sesampainya di bandara ternyata mereka telah menunggu, kondisi bandara saat itu sepi dan kami bermalam di kursi tunggu. Banyaknya nyamuk cukup mengganggu waktu istirahat kami.
Gumpalan Awan Dilihat dari Pesawat
Gumpalan Awan Dilihat dari Pesawat
Sunrise Dilihat dari Pesawat
Sunrise Dilihat dari Pesawat
Pemukiman Dilihat dari Pesawat
Pemukiman Dilihat dari Pesawat
Keesokan harinya, tanggal 3 Juli 2019, kami berangkat dari Yogyakarta ke Pontianak pukul 05.30, lebih awal dari jadwal sebelumnya. Meskipun sudah beberapa kali naik pesawat, tetap saja setiap perjalanannya menimbulkan kekaguman tersendiri atas alam yang indah. Rumah-rumah terlihat kecil, terbang melampaui awan, gunung-gunung tinggi tampak jauh di bawah, pulau dan laut seakan menyempit. Ditambah posisi duduk yang sangat tepat di dekat jendela dengan angle terbagus dekat dengan sayap pesawat, melihat depan atau belakang sama indahnya, serta bertepatan dengan sunrise menambah keyakinan bahwa Maha Agung Sang Pencipta Alam Semesta, Allah Swt.
Kiri ke kanan: Liyan, Kholil, dan Edi
Kiri ke kanan: Liyan, Kholil, dan Edi
Sampai di Pontianak, kami menunggu beberapa saat sambil berfoto pada spot yang telah disediakan untuk selanjutnya dijemput oleh teman-teman Mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN). Cuaca di luar bandara terlihat sangat adem karena langit tampak mendung, apalagi ketika berteduh di bawah pohon ketapang yang lumayan rimbun. Namun ternyata hawanya terasa panas menyengat di kulit, terutama di kulit wajah. Sebenarnya masuk akal, sebab Pontianak merupakan “Kota Khatulistiwa” dengan suhu tinggi, lebih panas jika dibandingkan dengan Kota Solo yang bisa dibilang jauh di selatan garis khatulistiwa. Agaknya gurauan kakak-kakak KKN Lentera Borneo periode sebelumnya benar, kami perlu berfoto sebelum dan sesudah KKN pada tempat dan dalam waktu yang sama, melihat perbedaannya masih bisa dikenali atau tidak. Hehehe... Kami yang lapar karena sejak malam sebelumnya belum makan, akhirnya diajak mampir ke warung makan ayam geprek, dekat dengan kampus UNTAN. Kami dijemput menggunakan tiga sepeda motor, tentunya Edi dan saya dibonceng teman laki-laki dan Liyan dibonceng teman perempuan. Sampai di warung makan dan pesanan datang, baru tahu ternyata masakan Pontianak dominan asin sampai-sampai asinnya kebangetan di lidah kami bertiga yang berasal dari Jawa, meskipun Edi dan saya orang pantura tapi asin ayam gepreknya tetap terasa berlebihan. Tapi enaknya ada ayam geprek yang belum pernah saya temui di Jawa, terdapat potongan kacang panjang muda dan daun kemangi yang juga digeprek bersama sambal dan ayamnya.
Halalbihalal Bersama Mahasiswa UNTAN
Halalbihalal Bersama Mahasiswa UNTAN
Setelah makan, kami diajak ke sekretariat organisasi yang diikuti oleh teman-teman UNTAN yang menjemput kami. Kebetulan pada saat itu ada acara halalbihalal tingkat provinsi organisasi tersebut, kami pun diajak turut serta dalam kegiatannya. Rezeki tersendiri, selain menambah banyak teman, juga mendapatkan tempat istirahat dan tentunya mendapatkan makan gratis. Malam harinya Edi dan saya diajak jalan-jalan ke tepian Sungai Kapuas, namun secara pribadi sangat menyayangkan kondisinya yang kurang tertata dengan rapi dan banyak sampah di sekitarnya. Jauh kondisinya jika dibandingkan dengan penataan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur yang pernah saya kunjungi pada tahun 2017, lebih tertata rapi dan cocok sebagai destinasi wisata. Sepanjang perjalanan pulang kembali ke tempat istirahat, di pinggiran jalan banyak jeruk yang dijual dengan harga sangat murah, ada yang harganya Rp10.000,00/3Kg; Rp15.000,00/3kg; dan Rp20.000,00/3Kg. Baru teringat ternyata jeruk Pontianak cukup familiar karena dulu saat sekolah sering membeli minuman es dengan rasa itu, padahal menurut informasi teman-teman Mahasiswa UNTAN perkebunan jeruk itu sebenarnya berada di Kabupaten Sambas, hanya saja banyak dipasarkan dan terkenalnya di Pontianak.

Kesempatan di Pontianak tidak bisa berlama-lama, karena masih banyak yang harus diurus di Kabupaten Sambas. Pukul 23.00 WIB kami diantarkan ke  Masjid Muhtadin UNTAN untuk menunggu penjemputan Bus Leegad Oranye Pontianak – Sambas, bus yang selalu direkomendasikan setiap kami bertanya ke beberapa orang. Biaya antar Bus Leegad Rp50.000,00/orang. Menunggu cukup lama karena sekitar pukul 00.10 WIB bus baru sampai, sampai ganti hari dengan masih ditunggu oleh teman-teman Mahasiswa UNTAN. Hal yang benar-benar unik dan baru kami temui di Kalimantan adalah banyak motor milik penumpang atau titipan dinaikkan di atap bus bersama koper dan barang-barang lainnya, padahal ukuran bus juga tidak seberapa, kondisi yang tidak pernah kami temukan di Jawa. Cara menaikkannya pun sangat unik, yaitu ditarik menggunakan tali tambang secara vertikal dan ada petugas yang berjaga di atas. Membuat kami merasa terheran dan menjadi bahan bercandaan setelahnya. Cara pengangkutan seperti itu pula yang membuat salah satu roda koper Liyan patah dan hilang, kondisi ini baru kami ketahui ketika sampai di Kabupaten Sambas menuju penginapan.


Tanggal 4 Juli 2019 sekitar pukul 06.00 WIB kami sampai di Terminal Sambas, dekat dengan pasarnya. Sebab kuota internet habis, akhirnya saya menuju warung kopi yang juga menjual pulsa. Ternyata pulsa di sini harganya sama dengan di Jawa. Setelah itu rencana menuju Pendopo Bupati, kami bertanya ke ojek pangkalan mengenai tarifnya sesuai dengan lokasi yang dituju. Sepertinya layanan ojek online belum menjangkau Kabupaten Sambas. Sebanyak tiga motor dengan masing-masing tarif Rp15.000,00 kami menuju lokasi yang sudah kami beritahukan sebelumnya. Sesuai sepemahaman ojek kami diturunkan di bangunan yang terbilang baru dan sepi. Setelah berkomunikasi dengan Pak Ferie, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, pihak yang mengurus hubungan KKN UNS dengan Kabupaten Sambas ternyata lokasi yang kami tuju salah, sebab bukan diturunkan di Pendopo Bupati tapi di Aula Kabupaten Sambas di belakang Kantor Sekretariat Daerah (Sekda) Sambas. Akhirnya dengan bantuan Pak Juanda yang mengurusi Aula dan Pendopo Bupati, salah satu dari kami diajak menuju Pendopo Bupati, saat itu Edi yang berangkat. Liyan dan saya menunggu lama di depan aula, sebab ada acara kunjungan dari Mahasiswa Universiti Malaysia Sarawak kami diarahkan berpindah ke kantin di depannya. Perut kosong dan rasa lapar meski sudah diganjal dengan snack, karena tidak mempan akhirnya membuat kami memesan mie rebus dengan telur. Setelah menunggu lama (sekitar dua jam) tanpa kepastian, Edi datang dengan motor menjemput saya sambil membawa koper dan barang yang cukup dibawa, Liyan masih di kantin. Perjalanan menuju Pendopo Bupati bensin habis di tengah jalan, untungnya motor berhenti tepat di depan penjual bensin. Saat hendak mengisi bensin itulah Edi tertawa sampai terpingkal-pingkal, ternyata karena dia melihat koper Liyan yang rodanya tinggal satu. Kemudian perjalanan dilanjut, Edi tetap di Pendopo Bupati sedangkan saya menjemput Liyan sambil membawa barang yang masih tersisa.
Museum Daerah Sambas
Museum Daerah Sambas
Kondisi lelah akibat perjalanan panjang sedikit terobati dengan beristirahat di penginapan Bangunan Cagar Budaya Pendopo Bupati Sambas, Museum Daerah Sambas. Ketika cukup pulih, kami sempatkan berkeliling museum melihat koleksi yang ada, kebanyakan berhubungan dengan senjata perang mulai dari tombak, keris, meriam, senapan, parang dan sebagainya. Di sore harinya sambil berjalan kaki kami mencari makanan, sebenarnya tujuan utama di warung makan yang menjual nasi, namun karena tidak menemukan akhirnya pilihan kami jatuhkan pada warung bakso. Selain memesan bakso, Edi dan saya memesan nasi putih, untuk minumnya Liyan memesan es teh, Edi memesan es tawar (air es), sedangkan saya memesan es jeruk. Beberapa fakta terkait kuliner yang kami temui sejauh ini yaitu beras (nasi) di sini cita rasa dan teksturnya sangat berbeda dengan beras yang biasa dikonsumsi di Jawa; mayoritas masakan di sini menggunakan tauge panjang-panjang sebagai topping-nya; dan masyarakat di sini hanya mengenal dua jenis jeruk, yaitu jeruk besar yang dimakan langsung dan jeruk kecil yang digunakan untuk minuman atau campuran (perasan) makanan. Oh ya, masyarakat sini lebih awam dengan istilah "limau" untuk penyebutan jeruk.
Lorong Penginapan Museum Daerah Sambas
Lorong Penginapan Museum Daerah Sambas
Sambas yang dikelilingi oleh sungai membuat masyarakat setempat memanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari. Namun air sungainya ternyata berwarna coklat seperti besi karatan, katanya itu merupakan karakteristik lahan gambut. Kalau di Pontianak ada PDAM untuk pemurnian air sebelum didistribusikan ke masyarakat, di Sambas berbeda. Masyarakat langsung menyedot air sungai ke penampungan air rumahan, sehingga warna air keran dan bak mandinya pun berwarna coklat, guyonan kami sih mirip warna Dettol cair. Setelah mandi, Liyan merasa gatal-gatal, kulitnya merah dan bentol-bentol, ternyata tidak cocok dengan airnya, kondisi serupa kami berdua (Edi dan saya) rasakan setelah dua hari di penginapan. Di malam harinya, kami membantu Pak Juanda membenarkan pendopo yang letaknya di belakang penginapan, mulai dari mengganti lampu yang mulai redup atau sudah mati sampai menata kursi. Hal itu dilakukan karena keesokan harinya akan ada kunjungan dari mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Sambas. Kemudian aktivitas dilanjutkan dengan ngobrol santai, cerita-cerita bersama dengan Pak Juanda dan Istri serta anaknya terkait bahasa dan budaya masyarakat sekitar. Sebuah pengetahuan baru, kata “nong” digunakan sebagai panggilan sayang untuk anak-anak di sini, kalau di Jawa sih mirip-mirip lah dengan kata “nang”. Juga untuk penyebutan Pakde, Makde, Bangde, Paklung, Maklung, Pakngah, Makngah dan masih banyak lagi yang tidak saya ingat.

Keesokan harinya, pada tanggal 5 Juli 2019, menggunakan motor pinjaman dari Pak Juanda kami bertiga menuju Kantor Sekda Sambas, masih dengan sistem sama antar jemput, guna menemui Pak Ferie. Sampai di kantor pukul 09.00 WIB, ternyata Pak Ferie ada rapat di kecamatan lain. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan di depan Kantor Sekda. Antara menu mie dan nasi goreng kami memutuskan untuk membeli nasi goreng, tentunya nasinya masih sama keras dengan sebelumnya, berbeda dengan nasi di Jawa, ditambah dengan topping tauge. Di warung itu juga menjual jeruk dengan harga Rp5.000,00/kg, dibanding dengan Pontianak ternyata lebih murah di sana padahal kebunnya di sini, satu yang sama adalah jeruknya sama-sama enak dan segar. Ketika sedang menikmati hidangan, Edi ditelpon Pak Ferie, sehingga makan kami percepat setelah itu kembali ke Kantor Sekda. Bertemu Pak Ferie, kami membahas  tentang persiapan penyambutan teman-teman lainnya TIM KKN Lentera Borneo pada tanggal 10 Juli 2019. Dilanjutkan dengan agenda wajib di setiap kegiatan, yaitu berfoto. Selain berfoto dengan Pak Ferie, kami juga berfoto dengan Bapak Asisten I.
Bersilaturahmi di Rumah Pak Juanda
Bersilaturahmi di Rumah Pak Juanda
Kembali ke penginapan kami diantarkan oleh dua pegawai staf Pak Ferie, sebab motor Pak Juanda sudah dipakai untuk acara Beliau lainnya dan tidak ada motor dinas yang menganggur. Edi dan saya bergantian. Sebagai kewajiban, memasuki waktu salat jumat, Edi dan saya jumatan di  Masjid Desa Lorong, masih satu desa dengan penginapan. Cuaca sangat panas, masjid sempit dan jumlah jamaah yang sangat banyak membuat saya di luar berdiri sampai sesaat sebelum takbir. Sebenarnya setelah jumatan kami berencana menuju lokasi KKN di Kecamatan Sajingan Besar, namun setelah menghubungi beberapa nomor kendaraan umum ternayata tidak ada yang bisa. Rencana kami undur. Makan siang kami memasak sereal menggunakan peralatan seadanya yang tersedia di sana. Beberapa hari di penginapan membuat sampah kami menumpuk, akhirnya Edi dan saya mencari tempat sampah, ternyata di pinggiran sungai ada. Setelah membuang sampah kami menikmati senja di tepian Sungai Sambas. Malam harinya, setelah maghrib kami bersilaturahmi ke rumah Pak Juanda, di mess karyawan Kabupaten Sambas. Saat itu pula Liyan menceritakan keluhan kulitnya yang gatal-gatal, dia bersama istri Pak Juanda kemudian membeli obat di apotek terdekat. Sepulang dari silaturahmi kami berencana mengambil uang di ATM sekaligus mampir minimarket untuk membeli keperluan konsumsi beberapa hari ke depan ketika di lokasi KKN. Saat itu pula Edi dan saya mampir mencari makanan khas Sambas, bubur paddas (pedas). Di tepian sungai banyak kuliner, dari informasi yang didapat akhirnya kami membelinya di Warung Ulan 2 dan dibungkus dimakan bersama di penginapan. Sedikit kaget ketika mengetahui ternyata buburnya tidak nasi, melainkan sayur-sayuran beberapa daun tumbuhan dengan topping kacang goreng dan teri, untungnya kami cocok dengan rasanya, kecuali Liyan. Rasanya lebih seperti sayur santan lembayung (daun kacang tunngak / kacang pendek) atau daun singkong.
Jalan di Depan Posko KKN Lentera Borneo
Jalan di Depan Posko KKN Lentera Borneo
Tanggal 6 Juli 2019, kami berangkat ke Kaliau’ naik taksi (istilah untuk travel di sini), sebelumnya kami telah berpamitan dengan keluarga Pak Juanda dan diberikan bekal sarapan nasi kuning, buah pisang dan jeruk. Perjalanan sekitar 1 jam 30 menit sampai di lokasi, sepanjang perjalanan mayoritas pohon sawit, namun mendekati lokasi banyak pohon hutan asli yang masih lebat. Travel menuju Desa Sanatab untuk mengantarkan penumpang lainnya terlebih dahulu. Waktu di desa itu banyak terlihat anjing yang tiduran di tengah jalan, juga babi hitam besar yang diliarkan sedang menyebrang jalan. Menuju arah Kaliau’, Liyan mabuk karena sebelum berangkat tidak meminum obat. Biasanya dia tidak mabuk jika naik mobil, namun sepertinya karena kondisi geografis jalannya yang berbeda (naik-turun dan berbelok-belok) membuatnya mabuk darat. Patut disyukuri karena kondisi jalan dari Sambas sampai Kaliau’, bahkan sampai perbatasan, lebar dan beraspal mulus. Sampai di lokasi ternyata pemukiman penduduk di pinggir jalan sangat sedikit dan jarang-jarang, pusat kecamatannya pun jarang rumah penduduk, ternyata perkampungan terletak lebih ke dalam dan jauh. Kantor desa kecil dan terpencil seperti rumah kosong, gedung kecamatan juga kurang terawat. Di kompleks pemerinta Kecamatan Sajingan Besar, di seberang jalan kantor kecamatannya terdapat puskesmas. Di depan puskesmasnya terdapat ATM BRI, sedikit lega melihat itu. namun ternyata ATM belum ada mesinnya, masih kotak dan plang dengan warna cerah yang sepertinya baru.
Posko Tim KKN Lentera Borneo
Posko Tim KKN Lentera Borneo
Menunggu beberapa saat di kantor kecamatan, kami ditemui oleh Pak Anton, bagian kesejahteraan masyarakat Desa Kaliau’. Kami diantarkan menuju Posko KKN yang ternyata jaraknya dekat di samping kantor kecamatan dan bisa hanya dengan jalan kaki. Lokasi posko merupakan Kantor PT Waskita Karya untuk proyek Pelebaran Jalan Simpang Tanjung – Aruk II (MYC). Beberapa saat kami merasa lapar, akhirnya membuat mie instan bekal yang kami bawa dari Sambas. Meminjam kompor dan perlengkapan lainnya oleh keluarga yang menjaga mess yang letaknya di atas posko. Kami juga meminjam motor untuk membeli LPG, harganya cukup berbeda dengan di Jawa yaitu Rp35.000,00/tabung melon. Saat itu ternyata di kampung sekitar sedang melaksanakan adat Hari Raya Samsam, semacam Hari Raya Nyepi orang Hindu. Adat ini dilaksanakan dengan tidak boleh berkunjung maupun menerima kunjungan dari siapapun, bagi yang melanggar akan terkena hukum adat dengan membayar denda untuk satu kampung (sesuai jumlah KK yang ada). Sore harinya kami diajak untuk bakar-bakar sambil membunuh hari menikmati malam minggu, beberapa ekor daging ayam menjadi menunya. Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB kami diajak ke Aruk, daerah perbatasan Indonesia – Malaysia, untuk menikmati Pasar Sabtu – Minggu. Pasar itu hanya ada di akhir pekan dan biasanya jadi perburuan bagi masyarakat kampung sekitarnya untuk berbelanja semua keperluan.

Kami pernah diberitahukan bahwa di sini jika listrik padam maka sinyal ikut hilang. Ternyata pada tanggal 7 Juli 2019 terjadi pemadaman listrik, akibatnya sinyal otomatis hilang. Oh ya, di sini provider Telkomsel dan Indosat sangat direkomendasikan, sedangkan lainnya tidak ada sinyal. Keduanya bisa sampai 4G namun jangan disamakan kestabilannya dengan di Jawa. Satu fakta lagi bahwa air di sini jernih, bersih, dan segar berasal dari mata air di Gunung (Bukit) Kaliau’. Namun lokasi posko yang berada di tempat lebih tinggi dari jalan terkadang pada siang hari airnya tidak mengalir. Saat menikmati hari sambil mengisi waktu karena sinyal hilang, kami mengobrol bersama ibu-ibu penghuni mess dan bermain bersama anak-anaknya, kami juga dikasih matoa lumayan banyak. Ternyata di Kaliau’ sedang musim matoa, hampir semua penduduk menanam pohon matoa di pekarangannya. Sore harinya kami diberikan singkong, lalu kami meminjam parutan dan diolah menjadi seredek kalau istilah Jawanya. Koneksi juga sempat hilang sampai malam, meskipun listriknya tidak sedang padam.

Agenda tanggal 8 Juli 2019 survei di sekolahan yang ada di Desa Kaliau’. Tidak adanya kendaraan ditambah dengan keinginan untuk menikmati sekitar membuat kami bertiga jalan kaki. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan, jarak sekolahan di sini jauh-jauh sehingga kami hanya melakukan survei di SD N 3 Sajingan Besar, PAUD, dan SMK N 1 Sajingan Besar. Ada dua bangunan PAUD yang kami lewati, namun satunya yang satu arah dengan SD N 3 Sajingan Besar merupakan gedung baru dan masih belum beroperasi. Selain itu rencana menuju SMP N 1 Sajingan Besar juga belum terlaksana karena berbeda jalan dan masih jauh lagi. Saat di SMK kami membeli sarapan yang sebenarnya sudah masuk jam makan siang, karena kegiatan belajar belum masuk secara efektif, masih masa pengenalan mahasiswa baru, sehingga menu yang ada hanya mie instan dan bubur. Kalau di warung ini harga mie instan isi dua Rp7.000,00/porsi. Di hari itu kami mengeluarkan banyak uang karena memang lapar, lelah, kehausan, dan matahari yang sangat terik. Fakta di sini adalah dualisme mata uang rupiah dan ringgi sangat kuat, bahkan warung-warung kecilpun juga menerima pembayaran dengan kedua mata uang itu. Siswa-siswi juga tergolong banyak yang menggunakan uang ringgit ketika membayar. Selesai dari SMK kami menuju kantor kecamatan karena rencananya akan bertemu Pak Camat, namun Pak Camat masih rapat sehingga tidak jadi.

Sore harinya kami ditawari diajak belanja di Tanjung untuk keperluan masak. Kami membeli beras satu karung Rp100.000,00/10Kg dan beberapa bumbu dapur yang diperlukan. Beras yang kami beli dari Malaysia yang rasanya kurang enak dan teksturnya keras. Memang sebagian besar kebutuhan pokok di sini dipasok dari Malaysia karena pertimbangan harga yang lebih murah. Akhirnya di malam itu kami bisa makan nasi, meskipun masih menggunakan lauk omlete mie, namun itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Kondisi-kondisi seperti itu membuat saya semakin bersyukur karena telah dilahirkan dan dibesarkan di Desa Trembes. Meskipun desa jauh dari keramaian, namun akses kemanapun mudah, banyak tetangga, suasana nyaman dan tentram. Sekitar pukul 21.30 WIB kami bersilaturahmi ke Rumah Dinas Camat. Menuju rumah Pak Camat kami mendapat kebahagiaan karena mengetahui malam itu Mesin ATM BRI dipasang. Sebenarnya kami sudah diundang sejak pukul 19.30 WIB via chat, namun koneksi yang terkendala membuat chat masuk terlambat. Kami mengobrol banyak tentang esensi pendidikan, bersosial, tanggungjawab, akhlak, bersyukur, dan banyak diskusi lainnya tentang kehidupan hingga pukul 23.30 WIB. Salah satu poin yang paling mengena adalah mengenai cara makan seseorang. Beliau menilai tingkat tanggung jawab seseorang dari makanannya, seseorang yang mengambil makan sendiri dan tidak habis dinilai susah untuk bekerjasama. Soal rejeki saja tidak bertanggung jawab dengan dihabiskan (disyukuri), apalagi jika diberikan tanggung jawab yang lebih besar? Padahal dari sepiring nasi saja telah melibatkan banyak orang. Selain itu tentang pendidikan yang esensinya adalah untuk mengolah potensi dan mempertajam pola pikir yang nantinya akan berguna ketika bermasyarakat. Juga bahwa pendidikan selaras dengan akhlak dan ibadah. Satu hal yang cukup mengiris hati adalah tentang nasionalisme masyarakat di perbatasan. Jangan sampai urusan ekonomi dan perut menjadi tolok ukur seberapa patriotnya masyarakat perbatasan terhadap negara, tetap menjaga harga diri bangsa dan memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) saja sudah menjadi bukti kuat bahwa masyarakat perbatasan memiliki jiwa nasionalis.
Paspor Berguna Pertama Kali
Paspor Berguna Pertama Kali
PLBN Aruk (Border)
PLBN Aruk (Border)
Bersama Pak Camat di PLBN Aruk
Bersama Pak Camat di PLBN Aruk
Berganti hari berganti pula agendanya. Tanggal 9 merupakan jadwal menuju Kantor Desa Kaliau’ untuk menemui Pak Sekretaris Desa (Sekdes). Sampai sana hanya ada beberapa pegawai desa muda, Pak Sekdes sedang pergi ke Aruk diajak oleh Pak Bendahara Desa. Rencana beralih ke kantor kecamatan untuk menemui Pak Sekretasi Camat (Sekcam), tujuannya adalah meminta surat untuk pengajuan domain pemerintah kecamatan ke Dinas Kominfo Sambas. Siang hari kami dihubungi Pak Camat diajak jalan-jalan ke Lundu, daerah administratif setingkat kecamatran yang termasuk Kotamadya Sarawak, Malaysia. Selain berkeliling melihat gedung pemerintahan, rumah dinas pemerintah setempat, sekolahan, dan alun-alun, kami juga diajak untuk menikmati kuliner di Curry House Lundu. Saya memilih ikan laut kuah kari, sayur tauge dan kacang panjang, serta kentang goreng bumbu kari dengan minum crysanthemum tea plus honey. Edi yang tidak menyukai ikan laut memilih ayam goreng bumbu kari, dengan sayur dan minuman yang sama. Kondisi yang kami temukan adalah di wilayah Malaysia perbatasan juga sangat banyak pohon sawit (perkebunan), rumah-rumah jarang dan cenderung sedikit menjorok ke dalam dari jalan raya, dan perkampungan jauh ke dalam dari jalan raya. Sisi positif di sana adalah pembangunan bagus jalan raya tidak hanya lurus, namun setiap gang dan menuju rumah juga dibuatkan aspal mulus. Setiap tepi jalan dan pojokan gang juga diberikan tempat sampah besar, yang secara berkala ada mobil pengangkut yang mengambil sampai perbatasan. Salah satu hal yang membuat Malaysia satu langkah lebih maju dari Indonesia. Kesempatan itu merupakan pertama kalinya paspor milik Edi dan saya berguna dan pertama kalinya kami ke luar negeri. Liyan yang belum memiliki paspor tetap di posko, namun kami bungkuskan makanannya. Namun sisi positif dari Indonesia adalah di daerah Aruk dan di Pos Lintas Batas Negara dibangun dengan sangat baik dan modern.
Penerimaan KKN dan DPL KKN Lentera Borneo oleh Pemkab Sambas
Penerimaan KKN dan DPL KKN Lentera Borneo oleh Pemkab Sambas
Tanggal 10 Juli 2019 merupakan hari terakhir kami bertiga merasakan kesepian dan hanya menikmati lolongan anjing setiap malam. Hari itu kami bersama Pak Camat menuju ke Aula Selatan di Kantor Sekda Sambas untuk melakukan penyambutan teman-teman TIM KKN Lentera Borneo bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami. Posko menjadi ramai dan terasa lengkap, kami juga bisa merasakan makan dengan nasi enak dari beras yang dibawa teman-teman. Akhirnya secara resmi Tim KKN Lentera Borneo Periode Juli – Agustus 2019 full team. Langkah selanjutnya dan yang paling utama adalah mengabdi kepada masyarakat Desa Kaliau’ melalui realisasi program kerja yang telah direncanakan dan didiskusikan sebelumnya.
Tim KKN Lentera Borneo & DPL
Tim KKN Lentera Borneo & DPL

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun