Type something and hit enter

author photo
By On
Wajah Indonesia: Pengalaman Pengabdian di Perbatasan Negeri
Foto di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Perbatasan Indonesia – Malaysia
Foto di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk,
Kecamatan Sajingan Besar, Perbatasan Indonesia – Malaysia
Bulan Juli – Agustus 2019 menjadi satu fase bagi saya untuk lebih dekat dengan akhir status sebagai Mahasiswa Strata 1 (S1) di Universitas Sebelas Maret (UNS). Sebagian besar mahasiswa semester 6 mengikuti pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengabdian kepada masyarakat. Saya sendiri mengikuti KKN Kemitraan UNS untuk Luar Jawa dan tergabung dalam Tim KKN Lentera Borneo yang pada periode ini dilaksanakan di Desa Kaliau’, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Satu alasan kuat memilih lokasi tersebut berawal dari Diskusi Kebangsaan pada 4 Februari 2019 lalu yang bertajuk “Mencerdaskan Generasi Muda di Wilayah Perbatasan Indonesia – Malaysia”, kerjasama Rumah Kepemimpinan Regional 9 Solo dengan Pusat Studi ASEAN UNS. Diskusi menarik dengan pembicara dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS yang sudah lama mengabdi di perbatasan memunculkan keinginan saya untuk bisa merasakan sendiri kehidupan masyarakat di daerah perbatasan yang menjadi salah satu representasi Wajah Indonesia di mata negara lain, tidak hanya berbekal katanya-katanya.

Kesan awal berada di sini yaitu masyarakatnya sangat ramah terhadap kami (mahasiswa) selaku pendatang. Tentunya keramahan di sini tidak bisa disamakan dengan keramahan masyarakat Jawa, karena norma dan istiadatnya juga cukup berbeda. Tampaknya sikap itu juga disebabkan karena Desa Kaliau’ seringkali digunakan sebagai lokasi KKN oleh berbagai kampus dari Sambas dan sekitarnya maupun dari Pulau Jawa. Bahkan satu minggu sebelum kedatangan kami, posko yang kami tempati telah digunakan mahasiswa dari perguruan tinggi di Pontianak dalam kegiatan yang hampir serupa.
Posko Tim KKN Lentera Borneo, Kantor PT Waskita Karya untuk Proyek Pembangunan Jalan Simpang Tanjung - Aruk II
Posko Tim KKN Lentera Borneo, Kantor PT Waskita Karya
untuk Proyek Pembangunan Jalan Simpang Tanjung - Aruk II
Selama di sini kegiatan dilaksanakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, budaya, dan pariwisata. Pelaksanaan program kerja ini berdasarkan kajian yang telah dilakukan tim kami dari data pemerintah setempat dan studi pustaka lainnya, keberjalanan program kerja melibatkan banyak pihak yang berkaitan. Saya sendiri mendapatkan amanah sebagai penanggung jawab dalam program kerja Beriqra (Taman Pendidikan al-Quran) yang dilaksanakan di Masjid Sabilal Muhtadin. Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqoh (Lazis) UNS menjadi pihak yang turut membantu Beriqra dengan memberikan sumbangan berupa al-Quran dan Buku Iqra melalui programnya “Seribu Wakaf Quran ke Pelosok Negeri”, program yang tepat sasaran sesuai dengan kondisi di Desa Kaliau’.
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (1)
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (1)
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (2)
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (2)
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (3)
Proses Pengajaran Beriqra di Masjid Sabilal Muhtadin, Desa Kaliau' (3)
Proses Pengajaran "Every Day Teaching" di sekolah-sekolah
Proses Pengajaran "Every Day Teaching" di sekolah-sekolah
Kecamatan Sajingan Besar pada umumnya dan Desa Kaliau’ pada khususnya, Islam menjadi agama minoritas dengan masyarakatnya yang mayoritas beragama Katholik. Berbeda dengan Kabupaten Sambas secara keseluruhan yang mayoritasnya beragama Islam. Bisa dikatakan Sajingan Besar menjadi daerah terunik di Kabupaten Sambas, karena menjadi pusat Suku Dayak di antara Suku Melayu. Namun hal itulah yang membuat toleransi di sini sangat terasa, saya sendiri merasakannya saat ada salah satu masyarakat Suku Dayak yang mengadakan pesta pernikahan adat. Saat itu masyarakat bersama kami (mahasiswa) melakukan persiapan mulai dari rapat, menghias lokasi, sampai pembuatan konsumsinya. Meskipun tuan rumah beragama Katholik, namun ada bagian khusus untuk menghormati masyarakat yang beragama Islam dengan cara segala bahan konsumsi sampai pengolahannya di masak di tempat berbeda oleh orang Islam sendiri, tuan rumah hanya menyiapkan dananya. Pada saat pelaksanaan hari-h resepsi pun di berikan tempat khusus dengan peralatan yang terjaga, disiapkan sendiri oleh masyarakat yang beragama Islam. Langkah tersebut membuat masyarakat yang beragama Islam tetap bisa menjaga diri sesuai syariat, namun juga berbaur dengan lainnya. Sebab setiap rumah di sini memelihara anjing, beberapa lainnya ada juga yang memelihara babi hitam sebagai hewan ternaknya; dan untuk keperluan pesta yang tidak terlewatkan adalah segala masakan dari daging babi sebagai hidangannya.
Tim KKN Lentera Borneo saat Menghadiri Pernikahan Adat Suku Dayak
Tim KKN Lentera Borneo saat Menghadiri Pernikahan Adat Suku Dayak
Tampaknya istilah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” sangat sesuai di sini. Masyarakat Suku Dayak sangat menghargai pendatang, mereka sering mengajak kami untuk berkumpul sekadar membicarakan adat kebiasaan masyarakat setempat. Kalau di sini setiap pertemuan selalu ada kopi hitam yang menjadi jamuan wajibnya, saya sendiri tidak meminumnya karena memang tidak kuat, akhirnya air putih menjadi gantinya. Tidak ada salahnya untuk memenuhi undangan dari masyarakat, asalkan tetap bisa menjaga diri. Terutama saat berkumpul dengan pemuda yang terkadang tuak aren dan alkohol dari fermentasi beras menjadi jamuannya. Bukan sebuah masalah jika kita menolaknya, mereka juga cukup paham dengan hal itu, tentunya dengan berterus terang menggunakan cara yang sopan.
Istilah “Meleburlah tanpa sedikitpun meninggalkan idealismemu” perlu diterapkan, apalagi status sebagai mahasiswa yang notabene secara pendidikan memiliki keunggulan, sehingga sebisa mungkin mampu membawa diri dalam lingkungan yang berbeda bagaimanapun kondisinya.

Kedatangan kami memenuhi undangannya saja sudah menjadi kebahagiaan bagi masyarakat. Sebab berdasarkan penuturan mereka sendiri, mahasiswa yang sebelum-sebelumnya pernah melaksanakan KKN di sini tidak pernah mau menghadiri undangan masyarakat, kecuali hanya jika berkaitan dengan program kerjanya. Hal itu ternyata cukup membuat masyarakat tersinggung, pada akhirnya selalu menjadi bahan pembicaraan di antara mereka. Sampai muncul celotehan yang mengungkapkan keheranan bahwa mereka mengundang dengan maksud baik, tidak bakal meracuni atau ada niat buruk lainnya, akan tetapi para mahasiswa itu ditunggu sampai hari kepulangannya kok tidak pernah mau datang. Padahal masyarakat selalu bersikap baik, apabila mereka diperlakukan baik akan membalas dengan kebaikan pula, namun jika diganggu dan tidak dihargai mereka bisa membalasnya dengan hal yang lebih dari itu. Karena kami sering berbaur, pada akhirnya setiap ada kegiatan selalu dibantu demi kesuksesannya, bahkan sering diberikan sayuran untuk kami masak agar bisa merasakan makanan yang lebih beragam.

Di sini saya juga belajar untuk bisa berpikiran terbuka bahwa dalam menilai sesuatu tidak bisa disamaratakan. Masyarakat di sini cenderung memerlukan waktu lebih untuk bisa memahami sesuatu. Termasuk tingkat pemahaman usia anak-anak dan remaja, terutama ketika mengajar di sekolah-sekolah maupun saat Beriqra. Tingkat usia yang sama di sini tidak bisa diberikan teknik dan materi yang sama dengan di Jawa. Sebab dari hal itu pula, strategi yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelum pelaksanaan KKN pada akhirnya harus mengalami beberapa penyesuaian. Hal tersebut menjadi salah satu kesempatan kami untuk bisa beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi yang ada.

Di balik pelaksanaan KKN, bulan Juli ini juga ada hal lainnya. Kebetulan saya bersama dua teman lainnya berangkat satu minggu lebih awal daripada teman-teman lainnya, guna mempersiapkan penyambutan dan survei lokasi untuk pelaksanann KKN. Di saat itu pula yang seharusnya saya bisa mengikuti final presentasi Lomba Karya Tulis Alquran (LKTIA) di Universitas Lampung bersama sesama peserta RK, akhirnya menjadi terurungkan. Padahal sebenarnya itu menjadi kesempatan untuk bisa berkunjung di Pulau Sumatera, karena tiket berangkat KKN yang sudah terbeli jauh sebelumnya dan perubahan jadwal Final LKTIA, membuat saya lebih memprioritaskan untuk berangkat KKN. Namun hal itu membuat saya memiliki pengalaman lebih dengan beberapa hari di Pontianak dan Pusat Kabupaten Sambas, sebelum menuju lokasi KKN, berbaur dengan teman-teman Mahasiswa Universitas Tanjung Pura, dan berhubungan dengan petinggi-petinggi Kabupaten Sambas, belum tentu pula pengalaman seperti itu bisa saya dapatkan di lain waktu. Saya pun mendapatkan kabar bahagia karena Tim LKTIA kami meraih juara 2 dalam kompetisi itu, keyakinan bahwa masih banyak kesempatan lain sebagai gantinya tetap tertanam di hati.

Di sela-sela KKN ini pula saya berkesempatan untuk berkunjung ke Lundu, Sarawak, Malaysia, pertama kali memanfaatkan paspor yang saya miliki. Selain itu saya juga mempersiapkan berkas secara jarak jauh Sambas - Surakarta untuk keperluan Pertukaran Pelajar di Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya. Alhamdulillah saya terpilih sebagai salah satu peserta yang lolos seleksi Program Student Exchange yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret. Rencananya sepulang dari KKN, saya mempersiapkan seminar proposal skripsi dan pelaksanaan pertukaran pelajar selama 17 September 2019 – 16 Oktober 2019.
Jalan Mulus di Kecamatan Sajingan Besar
Jalan Mulus di Kecamatan Sajingan Besar
Terkait infrastruktur dan kondisi secara umum di Sajingan Besar, persepsi orang-orang tentang daerah perbatasan yang serba tertinggal tidak sepenuhnya benar. Memang dalam beberapa hal terutama pemanfaatan teknologi oleh masyarakat masih cukup jauh apabila dibandingkan dengan di Jawa, namun Desa Kaliau’ telah berkembang menjadi desa percontohan broadband, sebuah program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo). Fasilitas umum lainnya juga sudah memadai, bahkan di sini jalannya beraspal mulus dengan baik, lebar, dan dua track; kalau di Jawa kondisi jalan seperti itu biasa ditemukan di jalan tol. Pendidikannya cukup lengkap dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Desa Kaliau’ sebagai pusat kecamatannya pun telah meningkat statusnya dari desa maju menjadi desa mandiri. Image Kalimantan dengan hutannya bisa ditemukan di sini. Hutan rimba di Sajingan Besar masih asri, bahkan kabut bisa tetap ada sampai pukul 10.00 WIB, hingga muncul sebutannya sebagai “Negeri di Atas Awan”. Masyarakat biasa memanfaatkan hasil hutan untuk kebutuhannya. biasanya sepulang sekolah anak-anak bermain di hutan untuk mengambil pakis (daun tumbuhan paku) muda dan sayuran lainnya untuk dimasak oleh orang tuanya, serta buah-buahan khas hutan setempat. Di kecamatan ini pula terdapat Hutan Cagar Alam Sambas. Air tidak pernah kekurangan karena mengalir deras bersumber langsung dari mata air di Bukit Kaliau’.
Hutan di Kecamatan Sajingan Besar
Hutan di Kecamatan Sajingan Besar
Perihal kebudayaan tidak perlu ditanyakan lagi, sebab dari campur tangan Kementerian Pariwisata melalui program Wonderful Indonesia membuat perkembangan seni budaya di sini berkembang pesat. Berbagai acara tahunan lokal, nasional, maupun internasional sering terselenggara di sini, putra daerah juga sering menjadi juara dalam setiap penyelenggaraan kompetisi budaya sampai kancah dunia internasional. Perekonomian masyarakat menjadi lebih maju, terutama berkembang pesat sejak dibukanya Jalan Raya Simpang Tanjung – Aruk, sehingga akses menuju pusat Kabupaten Sambas juga lebih mudah. Akan tetapi di sini masih terjadi dualisme mata uang dalam transaksinya, rupiah dan ringgit. Masyarakat juga biasa menikmati sembako dan barang lainnya yang berasal dari Malaysia dengan alasan harganya lebih murah. Pernyataan yang pernah terlontar dari hasil diskusi terbukti bahwa urusan “nasionalisme hati” masyarakat perbatasan tetap untuk Indonesia, akan tetapi untuk “nasionalisme perut” belum tentu. Namun keseluruhannya secara pribadi saya berpendapat bahwa Wajah Indonesia di perbatasan sini terjaga dengan baik. 
Paspor dan Perbatasan
Paspor dan Perbatasan
Cap Datang dan Pergi di Paspor
Cap Datang dan Pergi di Paspor

Tulisan ini telah dimuat pada laman pmiisolo.or.id pada tanggal 3 Agustus 2019 dengan judul yang sama, namun dengan penambahan konten (tulisan dan gambar). Selengkapnya bisa dilihat pada tautan berikut:

http://pmiisolo.or.id/2019/08/03/wajah-indonesia-pengalaman-pengabdian-di-perbatasan-negeri/

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun