Type something and hit enter

author photo
By On
Memilih untuk Mensyukuri daripada Mengutuk Hari
Sebuah cerita pada tanggal 3 September 2019
Proposal Skripsi yang Telah Mendapatkan Acc
Proposal Skripsi yang Telah Mendapatkan Acc
Sepenggal video berdurasi pendek di Instagram menampilkan animasi tentang gambaran hidup manusia. Kisah dua orang pemuda yang sedang naik kereta api di daerah perbukitan ekstrem, satu pemuda terlihat murung sebab ia hanya melihat tebing tinggi yang tampak monoton di sisi kanannya. Sedangkan pemuda lainnya tampak bahagia melihat pemandangan indah di sebelah kirinya. Sebenarnya mereka bisa sama-sama bahagia, apabila pemuda yang hanya memandang tebing itu mau mengambil sudut pandang lain dengan menoleh ke kiri.

Sejak membuka mata dari tidurnya, setiap manusia diberikan pilihan antara menjalani hidup sebagaimana mestinya atau dengan terpaksa penuh beban, terus meratapi nasib yang mungkin saja sedang tidak berpihak padanya. Begitu pula dengan dengan saya. Hari itu bila hanya memandang pada kekurangan mestinya cukup menjadi alasan bagi saya untuk berkeluh kesah. Bagaimana tidak? Dompet kosong tidak ada uang kertas sama sekali, uang koin pun jumlahnya tidak cukup jika digunakan untuk membeli seporsi makanan. Sedangkan empat ATM dari rekening berbeda sama-sama kosong tidak ada isinya, bilapun ada juga tidak memenuhi saldo minimal penarikan. Sepertinya setelah melaksanakan KKN biaya pengeluaran untuk berbagai macam hal masih terlampau banyak, uang reward dari kampus juga sudah habis. Maklum saja, posisi saya yang notabene hanya manusia biasa dan maqom-nya belum mencapai taraf zuhud, perihal materi keduniawian masih melekat erat. Sehingga bila lagi “kanker” alias kantung kering, saya masih sering meluapkan sambatan pada siapapun dan apapun. Namun ternyata yang saya rasakan di hari itu sama sekali bukanlah bersusah hati, akan tetapi lebih kepada rasa syukur sebab banyak sekali nikmat dari-Nya.

Seperti biasa hari itu bangun tidur agenda asrama dimulai dengan salat malam, lalu salat subuh, kemudian dilanjutkan dengan agenda zikir bersama dan diskusi kecil dalam Waktu Berkah Subuh (WBS). Kegiatan dilanjutkan sesuai agenda masing-masing, karena perkuliahan sudah mulai masuk jadi teman-teman yang masih ada teori berangkat ke kampus untuk masuk kelas. Sedangkan saya masih bersantai karena hari itu longgar tidak ada jadwal yang mengikat pasti, sebab di semester ini sudah tidak ada kelas teori hanya tinggal magang dan skripsi. Rencananya hari itu mengambil proposal skripsi yang sebelumnya telah diserahkan dosen pembimbing proposal untuk dikoreksi. Sebelumnya telah bersepakat dengan teman yang juga pembimbingnya sama dengan saya untuk pergi ke kampus setelah zuhur.

Merasa menunggu waktu zuhur masih lama dengan kondisi asrama yang sepi, akhirnya saya memutuskan untuk persiapan berangkat ke kampus lebih awal. Sebab kalau tidak sangat bisa dipastikan hawa ngantuk akan menghampiri dan ujung-ujungnya tidur di pagi hari. Persiapan saya mulai dengan bersih-bersih diri dilanjut menyeterika pakaian yang akan digunakan, setelah itu sebelum berangkat ke kampus saya menyempatkan untuk melaksanakan salat duha. Tidak lupa setelahnya berdoa, berharap melalui perantara salat duha maka Allah Swt. membukakan pintu rezeki dalam bentuk apapun – termasuk waktu lapang, kesehatan, dan kebahagiaan –  melalui jalan yang diridai-Nya untuk saya pribadi dan keluarga terutama kedua orang tua.

Sampai di kampus sekitar pukul 10.00 WIB, saya mencari posisi yang nyaman di “Meja WiFi” FIB depan Gedung 3. Kebetulan di sana juga sepi, mungkin karena jam-jam kelas. Saya duduk lalu menyalakan laptop, membuka aplikasi browser, file explorer dan Ms. Word; dengan tujuan mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai sambil mendengarkan musik. Sebenarnya file pendukung pengerjaan tugas sudah terkumpul malam sebelumnya, namun menyusunnya menjadi sebuah tulisan terasa mandek sehingga belum tergarap malam itu juga. Di sela-sela mengerjakan salah satu teman satu prodi (beda kelas) sekaligus ketua di organisasi yang saya ikuti menghampiri. Sambil tetap menulis, kami membicarakan seputar topik skripsi dan sedikit berkaitan dengan organisasi.

Mengerjakan sekiranya sampai pukul 11.20 WIB – tentunya diselingi juga dengan membaca berita daring dan membuka media sosial – saya mengabari teman jika posisi sudah di FIB, sehingga bisa menyusul sekarang. Tidak menunggu lama dia pun sampai. Mengingat waktu menjelang zuhur, kami memutuskan menunggu sampai azan tiba dan jamaah salat selesai, sambil tetap mengerjakan tugas. Setelah itu saya berberes, lalu kami menuju ke ruangan dosen pembimbing namun di ruangan Beliau tidak ada. Kami duduk di kursi tunggu depan ruangan, ternyata Beliau baru saja mengambil wudu untuk menunaikan salat di ruangan sebelah. Di saat itu pula banyak dosen dari berbagai prodi berlalu lalang menuju Ruang Seminar Lantai 2, berdasar hasil pendengaran kami mereka akan melaksanakan rapat yang sepertinya sangat penting karena tergesa-gesa. Salah satu dosen prodi kami bertanya sedang menunggu siapa, kami sampaikan maksud, Beliau menyarankan untuk menunggu sebentar. Setelah selesai salat Beliau masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa pula, kami memutuskan untuk tidak masuk sebab Beliau tidak sempat duduk barang sesaat. Hanya selisih sebentar, sambil membawa berkas Beliau ke luar ruangan lagi menuju lantai dua bersama dosen lainnya. Kami diminta menunggu hingga rapat selesai. Saya mengajak kembali ke depan Gedung 3, menunggu sambil membuka laptop kembali, kali ini pindah lesehan di dekat Water Dispenser SPAM UNS.
Oleh-oleh Khas Toraja
Oleh-oleh Khas Toraja
Pada saat menunggu itu ada yang menghampiri. Ternyata salah satu teman satu organisasi sekaligus tim lomba pertama kali, Yukrima, dia sudah pulang dari Sulawesi setelah pelaksanaan KKN sekaligus menemui orang tuanya. Sembari bertegur sapa dan cerita pengalaman selama di sana, dia memberikan oleh-oleh ikat kepala tenun khas Toraja dan gantungan kunci. Bisa ditebak, pastinya saya senang mendapatkan oleh-oleh, selain yang utama kembali bisa bertegur sapa. Dia berencana mengajak makan bersama setelah sekian lama belum berkumpul lagi, sambil memberikan kabar salah satu teman kami, Isti, partner lomba juga sebab kami bertiga. Baru saja dibicarakan Isti datang, namun terlihat tergesa-gesa katanya masih banyak urusan lainnya. Yukrima pun diajak Isti, rupanya hendak menuju LPPM UNS guna mengumpulkan LPJ KKN.

Sekitar pukul 14.30 WIB semua tugas saya selesai ditambah bisa membuat konten untuk postingan blog. Tidak lama dari itu, para dosen rupanya juga telah selesai rapat, pantas saja sebelumnya mereka tergesa-gesa ternyata ada kunjungan dari Bapak Rektor di FIB. Setelah cukup kondusif, kami menuju ruangan dosen pembimbing proposal. Di sana sudah ada teman satu pembimbing yang juga melakukan konsultasi dan mengambil koreksi proposalnya. Kami masuk ruangan, duduk di kursi tunggu tamu, tampaknya teman yang sedang konsultasi cukup lama karena mendapatkan banyak masukan.

Giliran saya menghadap Beliau, jauh dari perkiraan saya yang akan mendapatkan banyak coretan dan koreksi. Ternyata Beliau mengatakan proposal saya sudah bagus dan sesuai, hanya perlu pembenahan di bagian sistematika penulisan footnote yang ukuran font terlalu kecil, sedangkan panduan terbaru ukuran footnote sama dengan tulisan utama. Maklum sebelumnya tidak pernah membaca buku pedoman penulisan skripsi, hal yang tidak patut untuk ditiru sebab membaca pedoman itu sangat penting, setiap lembaga memiliki gaya selingkung masing-masing dan semua yang terlibat di dalam harus mematuhinya. Ternyata itu juga yang membuat proposal saya sebelumnya dengan dosen berbeda terdapat catatan, “Sering cek pedoman skripsi ya,” meskipun tidak ada coretan lain. Merasa hanya sebentar saja dan tidak ada koreksi saya bertanya terkait redaksi judul apakah perlu diganti atau tidak, menurut Beliau sudah pas dan tidak perlu ada perubahan. Sedikit revisi dari pembimbing satunya juga saya sampaikan, namun hal itu tidak perlu dilakukan sebab malah akan mempersulit sendiri. Serasa mendapatkan angin segar, sebab tidak ada revisian yang terlalu berarti dan memberatkan, terlebih saya mengejar urusan proposal skripsi segera selesai sebelum berangkat ke Malaysia guna student exchange. Hal itu juga menandakan bahwa proposal saya dari dua pembimbing telah mendapatkan Tulisan “Acc”, lengkap dengan tanggal beserta nama dan tanda tangan masing-masing pembimbing. Tinggal mengumpulkan revisian minggu depannya di hari yang sama, lalu setor judul pasti dan penandatanganan kontrak kepada dosen penanggung jawab skripsi. Artinya setelah itu akan mendapatkan nama-nama pasti dosen pembimbing skripsi sesuai topik yang saya tulis. Alhamdulillah... tidak lupa mengucap terima kasih saya kembali ke kursi tunggu tamu guna menunggu teman satunya maju. Setelah selesai semua dan merasa tidak ada agenda lainnya saya kembali ke asrama.
Teman Seperjuangan
Teman Seperjuangan
Baru saja sampai asrama ada chat masuk dari Isti dan Yuki untuk makan bersama, sembari meet up cerita banyak hal. Saya membalasnya untuk menunggu karena akan salat asar dan perjalanan dari asrama menuju kampus. Setelah sampai, kami memilih gazebo di Taman Cerdas Jebres untuk mengobrol sembari menikmati angin sepoi-sepoi, terasa nyaman sekali. Satu per satu dari kami menceritakan pengalaman masing-masing selama KKN, sembari memesan makanan via aplikasi. Tak lupa juga membahas kehidupan kami yang memang sudah masuk masa-masa sebagai mahasiswa semester tua, apalagi kalau bukan tentang skripsi dan rencana studi lanjut. Juga menyinggung keberjalanan organisasi, kebetulan masing-masing dari kami menjadi salah satu Pengurus Harian Tetap (PHT); saya sendiri Kepala Bidang Riset, Isti sebagai Sekretaris Umum I, dan Yuki sebagai Bendahara Umum I. Pertemuan kami selesai sekitar pukul 18.30-an, tentu di selang dengan salat magrib di musala yang ada di lokasi. Setelah itu kami pulang ke tempat masing-masing. Kebetulan hari itu sekitar pukul 20.00 WIB di asrama ada agenda “Dialog Tokoh” dengan Presiden dan Wakil Presiden Pasoepati tentang kepemimpinan dan manajemen.
Dialog Tokoh bersama Presiden dan Wakil Presiden Pasoepati
Dialog Tokoh bersama Presiden dan Wakil Presiden Pasoepati
Perjalanan di hari itu membuat saya bisa mengambil hikmah bahwa ternyata dalam menjalani hidup bisa selalu mendapatkan kebahagiaan apabila memilih sudut pandang yang tepat. Tidak terlalu memandang segi kekurangan yang membuat selalu sambat, namun mengalihkannya dengan menyukuri segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Sebab jika memilih meratapi kondisi keuangan dan harus menunggu lama – kegiatan paling membosankan bagi mayoritas manusia, termasuk saya – maka yang muncul hanya amarah psikis. Akan tetapi banyak hal yang membuat sisi ketidakenakan itu terpendam; yaitu sembari menunggu dosen semua tugas saya terselesaikan, bisa menambah tulisan guna postingan blog; lalu mendapatkan oleh-oleh khas Toraja, proposal skripsi disetujui tanpa banyak revisi, bisa bersilaturahim dengan teman-teman hebat yang selalu bersemangat dalam menjalani hidup, dan semua kegiatan di hari itu berjalan lancar. Bentuk kenikmatan dan rezeki yang tidak bisa didapatkan hanya dengan materi. Teringat Allah Stw. sudah berjanji melalui firmannya, bahwa bersama dengan kesulitan sesungguhnya ada banyak kemudahan. Serta janji Allah Swt. bahwa jika rasa syukur selalu ditanamkan dalam kehidupan, maka akan memunculkan kenikmatan-kenikmatan yang lainnya.
QS. al-Insyirah (94: 5-6):
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
5. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏
6. sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
QS. Ibrahim (14: 7):
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun